<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Belajarkehidupan's Blog</title>
	<atom:link href="http://belajarkehidupan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com</link>
	<description>Kehidupan adalah guru yang sangat mengesankan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Apr 2010 21:01:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='belajarkehidupan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Belajarkehidupan's Blog</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://belajarkehidupan.wordpress.com/osd.xml" title="Belajarkehidupan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://belajarkehidupan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nuansa Dakwah di Amsterdam</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2010/04/25/nuansa-dakwah-di-amsterdam/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2010/04/25/nuansa-dakwah-di-amsterdam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 20:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Amsterdam]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkehidupan.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Pengalaman ini saya alami pada periode 2006-2007. Bermula dari perkenalan saya dengan ibu Putri, salah seorang staf pengajar bahasa Belanda di Erasmus Huis Jakarta. Ketika itu saya menemui beliau dalam rangka meminta bantuan terjemahan atas surat tagihan pembayaran sewa student flat saya di Amsterdam yang dikirimkan ke alamat di Jakarta. Singkatnya, saya mendarat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=60&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Pengalaman ini saya alami pada periode 2006-2007. Bermula dari perkenalan saya dengan ibu Putri, salah seorang staf pengajar bahasa Belanda di Erasmus Huis Jakarta. Ketika itu saya menemui beliau dalam rangka meminta bantuan terjemahan atas surat tagihan pembayaran sewa student flat saya di Amsterdam yang dikirimkan ke alamat di Jakarta.</p>
<p>Singkatnya, saya mendarat di Bandara Schiphol tanpa kenal seorang teman pun yang akan dihubungi selain dari pegawai akademik di Universitas. Setelah tanya sana sini, saya berhasil menemukan kantor pengelola student flat &#8211; De Key di Jalan Hoogte Kadijk dan selanjutnya mengurus administrasi akademik di daerah sekitar Grimburgwal. Saya pun memulai kehidupan baru di Amsterdam.</p>
<p>Selain membeli keperluan sehari-hari, interaksi banyak saya lakukan melalui email dengan beberapa orang Indonesia yang punya pengalaman di Belanda. Adapun student flat di Jalan Weesperstraat tersebut memiliki 7 lantai dan berpenghuni sekitar 300 mahasiswa sedangkan orang Indonesia hanya ada dua yaitu saya di lantai paling atas dan ada seorang lagi di lantai paling bawah. Mengingat ibu Putri juga pernah kuliah di Belanda dan sifatnya yang sangat peduli walaupun terhadap orang yang baru dikenal seperti saya, pertanyaan2 banyak saya tujukan kepada beliau. Hingga akhirnya mungkin karena ‘terdesak’, beliau merekomendasikan saya kepada salah satu bekas murid beliau di Erasmus Huis yang bernama Syafii. Saat itu beliau menyebutnya sebagai teman (bukan murid) sehingga saya berasumsi bahwa ‘teman’ beliau sudah cukup berumur.</p>
<p><strong>Perkenalan</strong></p>
<p>Syafii ternyata hampir seusia saya, hanya lebih tua satu tahun. Perkenalan dengannya berlangsung akrab sekali hingga akhirnya saya diberi banyak petunjuk mengenai kota Amsterdam dan mendapat akses ke komunitas muslim Indonesia disana yang diberi nama PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) <a href="http://www.ppme-amsterdam.org/">www.ppme-amsterdam.org</a> . Ternyata Syafii adalah salah seorang pengurusnya, disamping juga pengurus Otkin (Organisasi Tenaga Kesehatan Indonesia di Nederland), dan terlibat sejumlah aktifitas lainnya.</p>
<p>Oleh Syafii, saya di ’dakwahi’ melalui perbuatan, bukan hanya kata-kata. Ketika saya menginap di rumahnya di Louwesweg dan diajak shalat subuh berjamaah dengan naik bersepeda beberapa kilo menuju mesjid PPME, saya selalu diberikan sepeda yang kondisinya lebih baik daripada yang dipakainya walaupun dia terkadang sambil membonceng istrinya. Begitu juga ketika dia diberikan hadiah buku dari saudaranya yang ternyata sudah dimilikinya sebelumnya, dia memberikan buku yang masih dibungkus plastik tersebut kepada saya.</p>
<p>Adapun hal yang membuat saya takjub, pada suatu malam saya pernah disajikan makanan dan ternyata cuma saya sendiri yang disuruh makan. Syafii dan istrinya beralasan masih kenyang, belakangan saya baru tahu ternyata makanan tersebut adalah makanan terakhir malam itu dan walaupun mereka belum makan tapi mereka berusaha memuliakan tamunya. Tidak jarang saya berusaha menolak kebaikannya yang saya rasakan ‘berlebihan’, tapi kemudian saya mendapati sikap yang tegas dan raut muka yang kecewa darinya, semoga Allah SWT melipatgandakan balasannya dunia akhirat kepada mereka berdua.</p>
<p>Memasuki bulan haji, Syafii dan istrinya pun berangkat ke tanah suci menunaikan ibadahnya. Salah satu kunci flat mereka dipercayakan kepada saya. Pada saat pertama kali pergi shalat jumat dari flat mereka menuju mesjid PPME di Ekingenstraat, saya tersasar ke ujung jalan yang lain sehingga terpaksa berjalan kaki memperbaiki arah. Tidak lama kemudian, saya dihampiri oleh seorang teman bernama Adi Nuradiyat, yang saya kenal dimesjid PPME sebelumnya. Saya pun dibonceng dengan menggunakan <em>scooter</em> ke mesjid PPME. Pada saat hendak pulang, saya dihampiri lagi dan diajak untuk ‘kumpul sesama orang Indonesia’ di rumah salah seorang teman yang bernama mas Winarna.</p>
<p>Ternyata acara tersebut bukanlah kegiatan silaturahim saja tapi merupakan kegiatan pengajian yang berjumlah sekitar 10 orang Indonesia dengan berbagai latar belakang. Ada seorang teman yang bernama Ardi yang sejak kecil sudah dibesarkan di Belanda sehingga terkadang diskusi harus dilakukan dengan bilingual yaitu bahasa Indonesia dan Belanda. Ada juga seorang teman yang menyebut dirinya arek Suroboyo, tapi ghirah keislamannya benar-benar luar biasa. Beliau gemar sekali meningkatkan kualitas bacaan AlQuran nya tanpa malu-malu atau takut salah. Sementara hampir semua jenis kemaksiatan ada di Belanda, tapi beliau bisa menahan diri. Beliau secara rutin datang dari Hilversum yang berjarak 30 Km dari Amsterdam untuk mengikuti kegiatan pengajian mingguan.</p>
<p>Adapun majelis pengajian tersebut dikelola oleh mas Winarna yang merupakan seorang mualaf. Walaupun begitu penguasaan bahasa arabnya sangat baik sekali bahkan kamus yang saya dapati di rumahnya adalah kamus Arab-Belanda. Suaranya juga merdu sekali, tidak bosan-bosannya mendengarkan beliau mengaji. Di samping itu, beliau haus sekali untuk memperdalam pengetahuannya terhadap islam, terkadang mengajak ustad yang datang dari Indonesia untuk menginap di rumahnya agar bisa lebih intensif dan kemudian ilmu yang diperoleh ‘ditularkan’ kepada majelis yang dikelolanya.</p>
<p>Biasanya, acara pengajian dibagi menjadi beberapa sesi. Dimulai dengan pembacaan ayat suci AlQur’an secara bergiliran yang diawasi dan dikoreksi secara <em>zakelijk</em> oleh mas Winarna, diikuti oleh pemberian kultum yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kajian utama dan diakhiri dengan shalat berjamaah dan sajian berbagai makanan khas Indonesia.</p>
<p>Pada awalnya, semua aktifitas tersebut dipimpin sendiri oleh mas Winarna. Tapi seiring dengan berlanjutnya kegiatan mingguan tersebut, beliau meminta agar pemberian kultum, kajian utama dan imam shalat berjamaah digilir diantara jamaah pengajian. Beliau tidak ingin menciptakan suasana figur sentris dan menurutnya hakikat pengajian tersebut adalah pembentukan kader. Adapun suasana diskusi selama pengajian juga cukup ramai, tidak jarang muncul berbagai tanggapan dan kritik yang menyebabkan suasana menjadi ‘hangat’ sehingga kultum pun berlanjut menjadi ‘kuliah tujuh puluh menit’ dan terkadang diplesetkan menjadi ‘kuliah terserah antum’. Adalah hal yang sedikit berbeda dengan apa yang saya dapati di Indonesia dimana para jamaah kebanyakan hanya mendengarkan dan terus pulang bahkan tidak sedikit yang tertidur selama pengajian.</p>
<p>Kegiatan pengajian tersebut juga penuh motivasi, ketika seorang jamaah bersikap malu-malu karena pertama kali memberikan kultum, dia terus diberikan semangat sehingga lama kelamaan dapat menyampaikannya secara lancar. Untuk menghilangkan kejenuhan, suasana dialog dan diskusi dibuat rileks dengan diselingi bahasa yang penuh senda gurau. Di samping itu, sejumlah jamaah berinisiatif menyediakan tempat kediamannya untuk perhelatan pengajian pada giliran berikutnya. Salah satu tempat yang berkesan bagi saya yaitu ketika kami mengaji di rumah mas Arga di wilayah Amstelveen, pinggiran kota Amsterdam, dimana rumah penduduk lebih sedikit, tidak banyak kendaraan lalu lalang dan suasananya cukup hening tidak seperti di pusat kota Amsterdam.</p>
<p>Memasuki musim panas, pengajian pun dilakukan di taman-taman seperti Amstel Park dan Vondelpark dimana aktifitas pengajian kami diselingi dengan bermain sepakbola. Terkadang kami melakukan <em>longmarch </em>menuju taman-taman tersebut dari rumah salah satu jamaah yang terdekat sambil membawa perangkat makanan dan tikar, mirip seperti kegiatan piknik. Aktifitas outdoor ini ternyata menjadi daya tarik bagi seorang non-muslim untuk mengikuti pengajian kami.</p>
<p>Pada kesempatan lain, dalam suasana merayakan Hari Raya Idul Adha di mesjid PPME saya berkenalan dengan mas Iman, kandidiat Ph.D bidang Fisika di Universiteit van Amsterdam. Oleh beliau, saya diajak untuk mengikuti kegiatan pengajian yang diselenggarakan dua minggu sekali di mushalla Uilenstede, daerah asrama mahasiswa Vrije Universiteit. Mas Iman orangnya kalem sekali, sedikit bicara dan banyak berbuat. Dari beliau, saya mendapat contoh langsung dari seorang muslim yang bisa mengkombinasikan kesuksesan secara duniawi dengan pencarian untuk kebutuhan akhiratnya. Penguasaan ilmu duniawi dan akhirat yang bisa berjalan secara seimbang dan disertai dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang saya dapati, termasuk pada diri sendiri, ketika seseorang sukses secara duniawi seringkali dia menjadi jauh dari Allah SWT sehingga menjadi kurang sukses dari sisi akhirat. Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang kurang sukses secara duniawi biasanya dia menjadi dekat sama Allah SWT. Mengkombinasikan dunia akhirat secara berimbang sungguh merupakan hal yang sulit.</p>
<p>Pada waktu senggang, terkadang saya mem-browse situs <a href="http://www.aswatalislam.net/">www.aswatalislam.net</a> yang berisikan cukup banyak ustad2 terkemuka dari seluruh dunia. Ketika membaca riwayat sejumlah ustad ternyata mereka adalah orang2 yang sukses secara duniawi dan menggunakan kesuksesan tersebut untuk menunjang aktifitas dakwahnya. Misalnya Jamal Badawi sebagai Professor di bidang Manajemen di salah satu universitas di Kanada, Zakir Naik sebagai Dokter, Ahmed Deedat sebagai Direktur Perusahaan Tekstil, dsb.</p>
<p>Kembali ke masalah aktifitas pengajian bersama mas Iman, kurang lebih sama dengan yang dikelola oleh mas Winarna. Adapun sedikit perbedaannya adalah jamaah pengajian mas Winarna mayoritas para pekerja sedangkan pengajian mas Iman kebanyakan mahasiswa. Alhamdulillah topik yang saya dapatkan pun menjadi beragam, walaupun begitu tetap terdapat kesamaan yaitu suasana pengajian benar-benar interaktif dimana banyak waktu yang digunakan untuk berdialog, diskusi dan tanya jawab diantara jamaah. Adapun pembicara atau pihak yang membawakan tema tidak harus menjadi orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan. Tiap-tiap anggota pengajian seringkali memberikan tanggapan ataupun sanggahan sehingga informasi yang dikumpulkan menjadi ‘kaya’ dengan berbagai sudut pandang masing-masing orang.</p>
<p><strong>Shalat</strong></p>
<p>Pada suasana lain, saya seringkali terharu setiap pergi shalat jumat di salah satu mesjid yang bernama Al Kabir yang terletak di jalan Weesperzijde, hampir setiap habis jumatan selalu ada orang yang bersyahadat dengan disaksikan oleh para jamaah. Ketika takbir Allahu Akbar bergema menyambut kehadiran saudara muslim yang baru tersebut, saya merasa sangat takjub mengingat hal tersebut belum pernah saya alami sebelumnya. Di sisi lain, ketika kutbah jumat sedang berlangsung tidak pernah saya dapati ada jamaah yang tidur dan saya tidak pernah menyaksikan anak-anak kecil berkeliaran membuat kegaduhan dan menjadikan mesjid sebagai ‘taman bermain’. Hal ini merupakan fenomena langka di Indonesia. Walaupun di dominasi oleh orang Maroko, jamaah mesjid tersebut cukup beragam mulai dari orang Indonesia, Xinjiang (Cina), Afrika, dan juga Eropa. Di samping itu, saya juga menemui beberapa jamaah yang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga terpaksa harus duduk diatas kursi tapi tetap semangat menunaikan shalat jumat.</p>
<p><strong>Puasa </strong></p>
<p>Godaan pada saat berpuasa bagi muslim cukup berat, udara dingin membuat perut menjadi keroncongan, ditambah lagi dengan jadwal buka maghrib yang lebih lama dari biasanya. Pada saat musim panas, jadwal maghrib akan lebih molor lagi. Puasa di negeri non-muslim juga menjadi tes keimanan bagi kaum muslimin yang sudah terbiasa berpuasa di negeri muslim.</p>
<p>Di Indonesia, orang non-muslim banyak yang merasa sungkan untuk menunjukkan aktifitas tidak berpuasa di depan kaum muslimin. Tidak demikian halnya di Amsterdam, orang tidak peduli dan tidak mengawasi apakah kita berpuasa atau tidak bahkan banyak sekali yang dengan bangganya memperagakan aktiftas maksiat di bulan suci tersebut. Sebagai pengalaman pribadi, ketika sedang mandi dalam rangka bersiap untuk menunaikan shalat jumat saya mendengarkan ‘suara-suara yang menganggu’ dari sepasang insan yang sedang bermaksiat di kamar mandi sebelah saya yang hanya dibatasi oleh dinding tipis vertikal.</p>
<p>Tidak ada <em>social punishment</em> sama sekali bagi yang tidak berpuasa sehingga timbul pertanyaan kepada diri sendiri apakah ingin berpuasa karena Allah SWT atau karena ikut-ikutan manusia. Di Indonesia banyak juga saya dapati orang non-muslim yang ikut berpuasa pada bulan Ramadhan, dan ketika di Amsterdam keadaan yang dihadapi justru sebaliknya dimana bagi muslim yang berpuasa seringkali terpaksa harus menolak ajakan teman-teman non-muslim untuk makan dan minum.</p>
<p>Pengalaman unik ketika berbuka puasa juga saya dapatkan di mesjid Al Kabir yang didominasi oleh orang Maroko dimana bagi orang2 yang ikut berbuka disediakan ruangan khusus yang menyajikan berbagai makanan dan ada sejumlah pengurus mesjid yang bertindak sebagai ‘waitress’ melayani tamu yang berbuka mulai dari menyediakan piring berisi makanan, mengawasi jika ada yang hendak menambah porsi makanannya, mengedarkan buah-buahan, dsb. Benar-benar bagaikan berada di restoran (yang serba gratis) dan hal itu membuat saya tidak sanggup untuk berbuka yang kedua kali di mesjid tersebut, malu rasanya mengeksploitasi tanpa ada kontribusi.</p>
<p><strong>Haji</strong></p>
<p>Saudara saudara muslim yang saya temui di Amsterdam, cukup banyak yang berhaji di usia relatif muda sekitar 20-30 tahun. Mereka tidak menunggu sampai tua terlebih dahulu dan tidak pula menunggu punya rumah atau kendaraan terlebih dahulu baru kemudian pergi haji. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa upah sebagai pekerja di Belanda lebih tinggi, biaya untuk pergi haji lebih murah dibandingkan di Indonesia, prosedur lebih sederhana, serta fasilitas yang lebih baik. Contohnya, ketika musim haji 2006 jamaah haji asal Indonesia mengalami masalah catering, teman-teman yang berhaji dari Belanda ternyata tidak menemui kendala.</p>
<p><strong>‘Dakwah’ dari non-muslim</strong></p>
<p>Pada awalnya saya alami ketika saat memasuki student flat dengan membawa ransel, tas laptop dan menyeret koper seberat 30 kg. Pintu masuknya sangat tebal dan pegas pintu tersebut kuat sekali sehingga memerlukan dorongan ekstra jika membawa barang2 berat. Pada saat itu ada seorang mahasiswa yang hendak pergi kuliah, dia buru2 membukakan pintu dan menunggu hingga saya berhasil melewati pintu tersebut baru kemudian menutupkannya dan pergi kuliah.</p>
<p>Sebelum kuliah dimulai, kampus mengadakan acara perkenalan yang diadakan di pinggir kota. Diantara kegiatannya adalah bermain sepakbola antar mahasiswa, ketika itu seorang dosen mata kuliah Corporate Finance ikut bergabung. Estimasi umurnya sekitar 50 tahun, tapi dia bermain begitu semangat bahkan sesekali memperagakan tendangan salto. Begitu juga ketika bola ‘nyasar’ ke bawah sebuah panggung, dia sendiri yang mengambilnya sambil bergerak tiarap ke bawah panggung tersebut tanpa merasa harus jaga image, gengsi atau takut kotor. Ternyata hal tersebut tidak mengurangi kewibawaan beliau di depan kelas pada saat mengajar.</p>
<p>Kejadian lainnya yaitu ketika printer di lab mahasiswa bermasalah sehingga pada saat sesi kuliah akan dimulai masih banyak mahasiswa yang berada di lab tersebut dan belum bisa mengumpulkan tugas. Hal itu membuat dosen yang bersangkutan heran melihat kelas masih kosong, kemudian setelah tahu permasalahannya dia dengan segera menyuruh seluruh mahasiswa untuk masuk kelas dan berjanji akan membantu printing di ruangannya pada saat sesi break.</p>
<p>Ketika mahasiswa telah menyelesaikan ujian sebagai tanda berakhirnya sesi kuliah, kampus biasanya mengadakan sesi ‘silaturahim’ bagi para mahasiswa dan dosen yang diadakan di salah satu kafe di pusat kota. Pada salah satu kesempatan, pernah dekan kami menepuk pundak saya dari belakang dan mengajak ngobrol, setelah itu dia segera beralih ke kumpulan mahasiswa lain di kafe tersebut untuk berinteraksi dengan mereka.</p>
<p>Pada saat mau berangkat ke Belanda, banyak orang-orang yang bilang bahwa orang Belanda itu pelit. Ternyata saya mengalami hal yang sebaliknya. Ketika bertemu mentor pertama kali justru saya di traktir olehnya, begitu juga dengan mentor yang lainnya. Pembimbing thesis saya bahkan lebih baik lagi, secara rutin dia mendatangi perusahaan tempat saya magang dan setelah selesai jam kerja saya ditraktir di kafe terdekat di daerah Sarphatistraat sambil berkonsultasi dengannya dan hal tersebut terjadi berulang2. Sebelumnya saya masih punya anggapan bahwa biasanya pembimbing malah minta dibayarin.  Beliau sungguh luar biasa, seorang professor dengan tampilan mirip Richard Gere yang memiliki sifat yang sangat perhatian sekaligus pengertian, lemah lembut, bersahaja dan bahkan berusaha menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan saya. Sebaliknya, saya pun berusaha menggunakan bahasa Belanda dengannya dan ketika merasa kesulitan dalam pilihan kata, kami pun akhirnya menggunakan bahasa Inggris.</p>
<p>Salah satu saat yang paling berkesan yang saya alami adalah ketika mengikuti sesi off-campus selama tiga hari di salah satu desa yang bernama Heemskerk, tempat kelahiran Rafael Van Der Vaart. Diselenggarakan di sebuah Kastil Assumburg yang dibangun pada abad ke 13, dikelilingi oleh sungai kecil yang mengitarinya dengan padang rumput yang luas terhampar di sekitarnya. Serasa seperti suasana di film The Three Musketeers. <a href="http://www.hihostels.com/dba/hostels-Stayokay-Heemskerk-040027.en.htm">http://www.hihostels.com/dba/hostels-Stayokay-Heemskerk-040027.en.htm</a></p>
<p>Inti kegiatannya adalah <em>contemplating</em> atau perenungan diri, mengungkapkan semua unek2, serta mengidentifikasi kelemahan dan memotivasi diri. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari betapa selama ini di Indonesia seringkali saya dapati teman, kerabat atau orang lain yang senang sekali bullying atau mencela orang dengan tujuan untuk membuat orang tersebut menjadi ‘tidak berdaya’, tidak percaya diri dan terbelakang secara mental. Orang tidak boleh mempunyai ide dan sikap yang berbeda, semuanya harus ikut tren atau terkucil dan keliatannya sebagian orang kita senang sekali mempersulit sebagian lainnya yang ingin maju. Ketika orang-orang di Belanda menerapkan hal yang sebaliknya, justru mereka menjadi maju dan orang-orang asing menjadi betah untuk hidup disana.</p>
<p>Walaupun tidak beragama islam, ternyata mereka menerapkan sebagian ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya yaitu sikap yang penuh toleransi namun tegas, ketulusan, <em>open-minded</em>, tidak antikritik dan kritik yang diajukan bersifat konstruktif bukan destruktif, saling membantu orang untuk bisa maju, dan mereka tetap menjaga ‘ukhuwah’.</p>
<p><strong><br />
Penutup</strong></p>
<p>Jika apa-apa yang saya sebutkan mengenai Indonesia ada yang bersifat negatif, tidak lain hanyalah ingin ikut mengidentifikasi hal-hal yang sepatutnya dibenahi. Hal-hal yang tidak disebutkan artinya sudah cukup baik dan oke, adapun yang luput dari pengamatan saya semoga ada yang berbaik hati untuk melengkapinya pada kesempatan lain. Saya baru menyadari sebagian praktek yang keliru ketika sudah berada dalam sistem yang lain. Terkadang kita tidak tahu bagian mana yang bermasalah karena memang tidak ada pembandingnya. Bagian luar kendaraan yang kotor hanya akan terlihat secara jelas ketika si pemiliknya berada dan melihat dari sisi luar kendaraan tersebut.</p>
<p>Seorang ahli perang tersohor &#8211; Sun Tzu pernah berkata ‘Kenali dirimu dan kenali musuhmu maka kamu akan menang dalam setiap pertempuran’. Ketika kita tidak bisa mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa menang dalam pertempuran yang saat ini tidak hanya melibatkan fisik tapi juga terjadi secara intelektual dan virtual. Kita seringkali menyalahkan masa lalu, dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, dsb. Bangsa2 lain juga mengalami penjajahan bahkan sebagian diantaranya lebih telat merdeka dibandingkan Indonesia tapi ternyata mereka bisa duluan lebih maju. Bisa jadi sebenarnya karena kita tidak pernah lepas dari belenggu penjajahan itu sendiri, walaupun bangsa asing sudah angkat kaki dari negeri ini tapi tradisinya tetap dilestarikan oleh sebagian dari bangsa ini sendiri untuk menjajah sebagian yang lain.</p>
<p>Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa secara formal maupun informal suatu sistem pengajaran yang baik haruslah membebaskan orang dari rasa takut dan canggung serta melatih untuk berpikir kreatif dan kritis sehingga tetap terjadi mekanisme perbaikan ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Adapun tulisan ini merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memudahkan jalan saya untuk menuntut ilmu secara formal maupun non-formal di Belanda dan menolong saya dari arah yang tidak disangka-sangka.</p>
<p>“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya…….” (Al Mulk: 15)</p>
<p>“Dan terhadap ni&#8217;mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” (Ad Dhuha: 11)</p>
<p><strong>Acknowledgement </strong></p>
<p>Syukron kepada anggota jamaah yang lain yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu-persatu!</p>
<p>Warm regards, Zul.</p>
<blockquote></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=60&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2010/04/25/nuansa-dakwah-di-amsterdam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskusi Dinar dan Pajak (Continued&#8230;?)</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/02/10/diskusi-dinar-dan-pajak-continued/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/02/10/diskusi-dinar-dan-pajak-continued/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 04:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dinar]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kepentingan]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkehidupan.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan diskusi dari Zul, seorang pelaku ekonomi, dengan ZS, salah seorang direktur Wakala Induk Nusantara Zul: Assalamualaikum Wr Wb Terima kasih atas balasan imelnya, setidaknya saya menangkap adanya itikad baik anda untuk bertukar pendapat dengan orang seperti saya. Selain itu saya sarankan agar di tulisan anda http://www.wakalanusantara.com/ detil.php?id=2 agar diberi kolom komentar supaya tidak menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=54&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan diskusi dari <strong>Zul</strong>, seorang pelaku ekonomi, dengan <strong>ZS</strong>, salah seorang direktur Wakala Induk Nusantara</p>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Assalamualaikum Wr Wb</p>
<p>Terima kasih atas balasan imelnya, setidaknya saya menangkap adanya itikad baik anda untuk bertukar pendapat dengan orang seperti saya. Selain itu saya sarankan agar di tulisan anda http://www.wakalanusantara.com/ detil.php?id=2 agar diberi kolom komentar supaya tidak menjadi doktrin sepihak. Tapi ya terserah anda, itu kan blog anda yang bikin.</p>
<p>Saya cuma minta kepada anda untuk menanggapi imel saya sekali lagi saja yaitu terhadap imel yang satu ini. Saya juga menyadari bahwa terus-terusan berpolemik seperti ini tidak baik bagi kemaslahatan bersama. Mas ZS, DVH, temen2 yang lain dan juga saya punya banyak urusan lain, oleh karena itu saya selesaikan saja seluruh pendapat saya sampai dengan imel ini. Jadi setelah anda menanggapi imel ini, segera saya anggap selesai. Imel ini sangat panjang dan saya minta tolong agar dicermati kalimat per kalimat.<br />
<span id="more-54"></span><br />
Saya perlu tegaskan dahulu bahwa saya sadar bahwa apa yang saya lakukan belum sesuai dengan syariat islam dan saya tidak anti syariat tsb bahkan saya setuju sekali dengan ucapan Syaikh Hasan Al Banna yang mengatakan: &#8220;Siapa pun dari ummat ini, yang mampu menegakkan agama Allah, maka kami siap menjadi junudnya&#8221;.</p>
<p>Akan tetapi saya termasuk kritis terhadap orang2 yang mempunyai indikasi untuk memanfaatkan kerinduan umat terhadap syariat tsb. Bahkan skarang ini orang kafir saja pada rebutan untuk buka bank syariah.</p>
<p>Dari diskusi yang pertama sebenarnya saya sudah menemukan ’titik temu’ dengan anda. Untuk selanjutnya saya akan fokus pada mazhab teori kepentingan, dimana ketika seseorang diuntungkan maka dia diam saja dan melakukan banyak justifikasi. Sebaliknya ketika dia dirugikan, maka dia akan teriak2 dan hujat sana sini. Contoh sederhana yaitu pada awak bus kota. ketika BBM diturunkan mereka diam saja dan tidak mau menurunkan tarif tapi pada saat BBM dinaikkan langsung teriak2, mogok, dsb.</p>
<p>Langsung saja ke tanggapan anda (saya kutip seperlunya saja yang berkaitan dengan hal2 yang hendak saya tanggapi):</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>….Jadi, keberhasilan pemberantasan riba, akan ditandai dengan hilangnya uang kertas, dan itu berarti hilangnya bank sentral, dan bergantinya sistem pemerintahan/politik dari model Negara fiskal kepada model yang sesuai dengan fitrah, yakni seperti sebelum ada NKRI, melalui kepemimpinan2 lokal….</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Dari <em>statement</em> ini tercermin bahwa anda mendukung aksi separatisme dan menginginkan kepemimpinan lokal bagi masing2 daerah yang berarti kemerdekaan bagi mereka. Tidak heran apabila cara anda mensosialisasikan dinar tersebut juga dengan gaya separatis. Cara tersebut biasanya memunculkan anarki dan <em>chaos</em> untuk mencapai tujuannya. Kalau boleh tau, anda pada waktu remaja pernahkah bergabung dengan komunitas punk?</p>
<p>Kemudian model yang anda sebut sesuai fitrah ini model yang mana? Sebelum ada NKRI sangat panjang masanya, bisa diurut sampai ke jaman kerajaan Majapahit dan Kutai. Sesuai fitrah ini, maksudnya fitrah yang mana? Fitrah menurut islamkah? Apakah model kerajaan tersebut adalah model yang diajarkan oleh islam? Dari mulai anak, cucu, cicit turun temurun langsung mempunyai hak menjadi raja begitu mereka dilahirkan tanpa memandang kapasitas <em>leadership</em> mereka. Kemudian lagi banyak dari Kerajaan tersebut agama resminya adalah Hindu, begitukah yang sesuai fitrah?</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>…Jadi,uang kertas-bank sentral-pajak adalah bentuk legalisasi perampokan, adalah kezaliman dan ketidakdilan itu sendiri. (elaborasi soal ini silakan baca Ilusi Demokrasi: Kritik dan Otokritik Islam, terbitan Republika)</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Herannya saya, pasar modal sama sekali tidak anda singgung2, padahal disitu banyak instrumen riba dan judinya. Apa karena susah untuk berjualan dinar disana? Kemudian kayak negara arab yang tidak ada pajak dan bahkan ada yang sudah mengembangkan e-dinar seperti United Arab Emirates tapi mereka membiarkan orang zionis untuk membantai saudara arab mereka di palestina. Apakah itu yang ideal menurut anda?</p>
<p>Kemudian menurut pendapat anda apakah juga terjadi pemalakan (secara resmi maupun tidak resmi) dari mekanisme yang dijalankan oleh TNI/POLRI? Ceritakan dan suarakan juga donk apakah menurut anda mereka juga bagian dari alat para kapitalist international? Atau anda takut nanti diberangus sama mereka dan bisnis dinar anda tutup?</p>
<p>Anda menyuruh saya baca buku anda. Secara wajarnya berarti saya harus membeli buku tsb atau meminjam dari orang yang sudah membeli buku tersebut. Nah lagi2 teori kepentingan dan keuntungan. Jualan lagi, jualan lagi.  Kalo niat anda memang untuk dakwah melawan kezaliman, mau ga anda membagikan secara gratis buku2 anda tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmed Deedat dan Harun Yahya? <em>For your information</em>, Ahmed Deedat membagikan banyak Al Qur’an dan banyak dari bukunya selama masa2 dia berceramah, sedangkan karya Harun Yahya bisa diunduh secara gratis pada websitenya www.harunyahya.com/indo</p>
<p>Atau kamu meminta upah kepada mereka?&#8221;, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling Baik (Al Mu’minuun: 72).</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya (Al Furqaan: 57).</p>
<p>Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.(Asy Syu’araa: 109 :127 :145 :164 :180).</p>
<p>Anyway, thanks atas rekomendasi anda terhadap buku tersebut, saya sudah dihadiahkan oleh DVH dan tidak ada yang istimewa dan juga tidak memuat fakta yang jelas mengenai alokasi dana pajak, hutang luar negeri, belanja APBN di Indonesia seperti yang anda suarakan di blog wakala anda.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>…..kita tak akan membutuhkan BI dan seluruh sistem perbankan lainnya  sama sekali.  Dengan semakin banyak orang menggantikan rupiah ke dinar, semakin kecil ruang gerak perbankan untuk menggelembungkan kredit, dan karena itu menekan inflasi…..</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Saya sangat mengerti jika anda tidak ingin ada BI dan DepKeu, karena dengan demikian terbuka kesempatan bagi wakala anda untuk menggantikan peran mereka. Walaupun secara syariah, sebenarnya BI bisa ditransformasi menjadi Baitul Mal dan DepKeu tetap bisa menjalankan administrasi keuangan negara.</p>
<p>Akan lebih objektif juga apabila anda sebutkan bahwa semakin banyak orang menggantikan rupiah ke dinar, semakin banyak keuntungan yang anda peroleh.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Dengan semakin banyak orang menggantikan rupiah ke dinar, semakin kecil ruang gerak perbankan untuk menggelembungkan kredit, dan karena itu menekan inflasi…..Jadi, tak ada soal dengan akses ke dinar. Sebab, bagi orang desa, mudah sekali mendapatkan dinar…</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Hmm&#8230;Begitukah? Coba kasi tau, bagaimana caranya orang di daerah Aceh Tamiang sana atau yang Papua sana membeli dinar anda. Dinarnya dikirim via tiki?</p>
<p>Apakah <em>supply</em> emas mencukupi jika seluruh rakyat di Indonesia ini menggunakan dinar? Jika <em>supply</em> tidak cukup maka akan timbul inflasi, sementara anda bilang mau menekan laju inflasi melalui dinar. Apakah anda sudah berpikir kesitu? Bagi orang2 yang memikirkan keuntungan pribadi, maka pertanyaan tersebut tidaklah esensial, sebodo amat yang penting gua untung.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Para ulama menyatakan dosa besar kedua sesudah musyrik adalah makan riba</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Ulama yang manakah? Ulama yang mengeluarkan fatwa golput haram?</p>
<p>Menurut Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi1 dosa besar sesudah syirik adalah durhaka kepada orang tua sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini:</p>
<p>&#8220;Maukah kamu saya terangkan sebesar-besar dosa besar &#8211;tiga kali. Mereka menjawab: Mau, ya Rasulullah! Maka bersabdalah Nabi, yaitu: menyekutukan Allah, durhaka kepada dua orang tua &#8211;waktu itu dia berdiri sambil bersandar, kemudian duduk, dan berkata: Ingatlah! Omongan dusta dan saksi dusta.&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sungguh saya kecewa tidak habis2nya terhadap fatwa, atau dalil yang dipelintir untuk kepentingan pribadi, apalagi ternyata fatwa tersebut berbeda dengan apa yang disebutkan dalam Hadist Shahih.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Rasul SAW, pada tahun 2 H, sebelum menetapkan hukum2 yg lain, menetapkan terlebih dahulu hukum ttg takaran dan timbangan, ttg uang, dalam satuan dinar dan dirham. Jadi, dinar adalah urusan pokok dalam Islam.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Anda tidak menanggapi pertanyaan saya apakah ngurusin dinar ini hal yang pertama dilakukan oleh Rasul. Jawaban anda tsb diatas adalah bentuk respon atas pernyataan saya yang mengatakan bahwa dinar hanyalah ranting dari permasalahan umat</p>
<p>Sungguh menyedihkan&#8230;&#8230;dari tanggapan anda terkesan seolah2 anda menganggap Rasul selama 11 tahun di periode mekkah dan 1 tahun pertama Hijriyah tidak melakukan apa2 yang berarti. Anda tidak menghargai <em>social restructuring</em> yang beliau lakukan. Bahkan pada periode mekkah tsb, jangankan mo menghujat praktek riba saat itu, untuk menghujat berhala aja beliau dilarang oleh Allah (baca Surah Al An’aam:108).</p>
<p>Beliau merekrut orang2 pilihan dikalangan kerabat dan masyarakat dengan berproses dimana secara tidak langsung dan dalam konteks duniawi beliau ’menawarkan’ penderitaan dan kesengsaraan kepada pemeluk islam saat itu sehingga keimanan orang yang memeluk islam benar2 teruji, bahkan di saat pengikutnya dihimpit batu di terik matahari dan ada juga yang disiksa sampai mati, beliau tidak menggelar demonstrasi dan hujat sana sini, bakar bendera, dsb tapi meminta umatnya untuk sabar (baca Surah Al Baqarah:214) sambil menyusun strategi jangka panjang karena memang belum tiba saatnya untuk bertindak. Itulah sebabnya orang2 yang pertama memeluk islam menempati keistimewaan tersendiri dalam sejarah islam sehingga tidak jarang Rasul mengutus mereka untuk mengajarkan islam. Puncak dari <em>social restructuring</em> tsb adalah saat hijrah ke Madinah dimana orang2 meninggalkan hartanya bahkan juga sanak saudaranya yang masih kafir di Mekkah dan terjadi pemisahan antara orang2 pilihan dan orang2 yang haus akan duniawi. Itulah sebabnya kaum muslimin bisa memenangkan Perang Badar walaupun jumlah mereka jauh lebih sedikit. Pada periode mekkah tersebut, cukup jelas bahwa beliau mengurusi hal yang lebih penting daripada dinar. Fakta lainnya, beberapa tahun sebelum hijrah umat islam di boikot, gimana mo dapetin dinar? Artinya dakwah yang dilakukan beliau itu dengan uang, darah dan airmata bukan justru buat memperkaya diri sendiri dan segolongan orang kemudian pake alasan untuk islam, biar masuk syurga, melawan riba, dsb.</p>
<p>Kemudian pada periode madinah, yang pertama beliau lakukan adalah membuat konstitusi yang mempersatukan orang madinah termasuk muslim, yahudi dan kaum pagan. Jika anda cermati isi piagam madinah tersebut anda akan tau bahwa isu utama adalah <em>the security of the community</em> dan bukan urusan dinar. Apalah artinya ngurusin dinar tapi begitu diserbu oleh kaum kafir mekkah lantas mampus semua karena ga ada konsep pertahanan.</p>
<p>Adapun yang anda lakukan selain propaganda islam adalah mengiming2i orang dengan keuntungan berlipat ganda oleh karena nilai dinar yang terus menanjak, sebagai instrumen proteksi, aman dari krisis, dsb. Itulah sebabnya kenapa kebanyakan orang yang menjadi klien anda adalah orang-orang yang tamak terhadap harta. Cobalah jujur terhadap diri anda sendiri.</p>
<p>Pengalaman saya, dari sekian orang yang mengadakan percakapan telpon dengan DVH yang pernah saya dengar di kamar saya, belum ada satupun orang yang mengatakan bahwa dia membeli dinar ini murni atas dasar kesadaran pribadi terhadap syariat dan hendak menjadi bagian dalam menyelamatkan umat dari fitnah riba serta tidak peduli apakah dinar ini sedang menguat atau melemah terhadap rupiah, kebanyakan justru nanya untung saya gimana? Kemudian lagi saya juga mendengar cerita dari DVH tentang mantan wakala yang ’murtad’ dan membentuk gerai sendiri kemudian merekayasa keuntungan 1% lebih tinggi dari wakala lainnya. Sungguh saya heran, anda masih bermimpi untuk bersama2 dengan orang-orang yang tamak ini untuk meruntuhkan kezaliman.</p>
<p>Kemudian silahkan anda pikirkan sendiri, dari style anda yang menghujat sana sini (tanpa solusi) sambil merobek2 uang Rp 50,000 itu apakah mempersatukan atau memecah belah? Menimbulkan simpati atau reaksi negatif? Tapi sepertinya anda tidak peduli, sepanjang itu bikin ngetop dan jadi penglaris usaha.</p>
<p>Anda bilang bahwa musuh utama umat islam saat ini adalah riba (<em>satanic finance</em>), maka saya akan bilang bahwa musuh umat islam yang paling berbahaya fitnahnya adalah <em>evil angelists </em>atau <em>satanic preachers</em>. Abu Bakar ra pada awal pemerintahannya, yang menjadi prioritas utamanya adalah <em>Satanic Preachers</em> seperti Musailamah, dkk.</p>
<p>Kalo <em>finance</em>, maka sesuai dengan topiknya maka urusannya hanya masalah uang. Tapi kalo <em>satanic preachers</em> sangat dahsyat efeknya, dia bisa bicara tentang riba, golput, rokok, dsb untuk kepentingan pribadinya. Bahkan tidak jarang di berita tv kita saksikan betapa seorang guru agama atau kyai begitu leluasa untuk mencabuli santri perempuannya. Pada jaman sebelum penggunaan uang emas (dinar) dan uang kertas, selama periode 9000-6000 BC http://projects.exeter.ac.uk/RDavies/arian/amser/chrono.html, orang tetap bisa hidup sebagai manusia. Tapi dengan maraknya <em>satanic preachers</em>, orang2 hidup bagaikan binatang yang buas dan rakus, bukan sebagai manusia lagi.</p>
<p><em>It is narrated from Abu Hurairah that the Messenger of Allah said: ”During the last phase, deceivers and dissemblers will be born, who will seek after the world in the garb of faith. They will wear sheep skin to impress the people with their asceticism and meekness. Their speech will be sweeter than sugar but in their breast there will be the hearts of wolves&#8230;&#8230; (HR Turmidzi)2</em></p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>&#8230;.saat ini semua orang masih memakai uang kertas. Maka, salah satu cara terpraktis mendapatkan dinar emas adalah dengan menukarkannya dengan uang kertas yang tak berguna itu&#8230;.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Tanggapan anda tsb diatas adalah untuk menanggapi pertanyaan saya mengenai inkonsistensi antara merobek rupiah di depan orang2 versus menerima rupiah sebagai alat pembeli dinar. Bagi saya pribadi, aksi penyobekan uang kertas itu bagian dari tindakan hipokrit dan kufur nikmat dimana si penyobek masih mengakui dan memanfaatkan kegunaan dari uang kertas tsb.</p>
<p>Dari sisi idealisme anda, begitu anda menerima uang rupiah dari masyarakat mestinya anda sobek2 juga semuanya seperti anda sering mendemonstrasikan merobek satu lembar uang Rp 50,000 ke orang2, apalagi mengutip ucapan anda diatas yang menyebutkan bahwa uang kertas tak berguna. Tapi kalo anda belanjakan rupiah tersebut atau anda tukarkan kembali ke dinar berarti anda mengakui kegunaan nilai uang kertas tsb. Anda pasti ga mau kalo dinar anda saya tukarkan dengan 1 kg lumpur Lapindo, karena anda tidak mengakui kesetaraan nilai lumpur tsb dengan dinar anda. <em>Practice what you preach!</em> Jadi jangan tanggung2, menyobek uang kertas sebaiknya bukan hanya untuk dilihat orang atau sebagai alat <em>marketing</em> usaha dinar saja.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>&#8230;..inilah masa transisi, ketika dinar emas setiap kali masih harus dicetak baru – karna belum banyak yg beredar –diperlukan biaya cetak dan pengedaran. Selisih uang yang dikenakan pada pemakain dinar adalah untuk biaya2 tsb, bukan an sich jual-beli koin dinar emas. Dinar emas tidak untuk diperjual-belikan</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Tidak ada pencantuman harga beli dinar pada website wakala anda, sekilas orang2 akan menganggap bahwa anda hanya menerapkan harga tunggal dan tidak ada selisih antara harga jual-beli dinar yang anda jual. Saya lebih menghargai pada wakala lain yang terafiliasi dengan anda yaitu http://wakalasauqi.blogspot.com/ (visited on 4 February 2009) dimana dicantumkan keterangan yang menyebutkan: Rate Wakala Beli: Rate Dinar/Dirham x 96%.</p>
<p>Tidak ada penjelasan apapun mengenai harga beli dinar tersebut pada website wakala anda maupun wakala afiliasi tsb, berarti kondisi tersebut tetap berlaku kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun tranksaksi dilaksanakan.</p>
<p>Tolong simak beberapa contoh berikut ini:</p>
<p>Contoh pertama, ada Mr. X yang datang menukarkan 1 dinar dengan rupiah di wakala anda dan pada hari tsb stock dinar anda sedang kosong sehingga dinar dari Mr. X tersebut satu2nya dinar yang anda miliki. Mr. X pun memperoleh rupiah sebanyak harga beli dinar yang anda tetapkan. 5 menit kemudian datang Mr. Y untuk membeli 1 dinar dari anda, berarti yang anda berikan adalah dinar Mr. X tadi. Tentu saja harga yang anda tetapkan kepada Mr. Y adalah harga jual anda yang notabene lebih tinggi sebesar 4% dari harga beli anda terhadap dinar Mr. X. Apakah masih ada biaya percetakan dan peredaran disana? <em>Come on, stop bullshitting people!</em></p>
<p>Contoh kedua, ketika ada orang yang menukar dinar yang sama untuk kedua kalinya dalam hari yang sama (asumsi tidak ada transaksi lain selain dengan orang tsb), tetap saja dia kena selisih harga jual-beli itu kan pada transaksi yang kedua? Padahal biaya percetakan sudah diakomodir pada selisih harga di saat transaksi yang pertama.</p>
<p>Contoh ketiga, berkaitan dengan kezaliman. Jika ada orang membeli dinar sebanyak 1000 koin (asumsi total harga 1M), kemudian tau2 sejam berikutnya keluarganya ada yang sakit dan perlu dirawat segera sehingga dia memutuskan untuk menukarkan keseluruhan dinar tersebut ke dalam rupiah maka uangnya yang kembali hanya sebanyak 960jt. Dia menjadi korban apa yang anda sebut biaya percetakan dan peredaran, dan jika ini terjadi paling2 anda bisanya menyalahkan pemerintah yang menerapkan riba sehingga rumah sakit masih mempersyaratkan rupiah, <em>that’s all you got!</em></p>
<p>Anda mahir sekali mengkritik penggunaan dana nasabah oleh bank syariah yang tidak disertai akad, Tapi anda tidak mencantumkan di website bahwa keuntungan atas selisih harga jual-beli dinar (<em>spread</em>) sebesar 4% adalah untuk biaya percetakan dinar. Kemudian lagi tidak dijelaskan berapa persen yang dialokasikan untuk biaya percetakan dan berapa persen yang anda akui sebagai keuntungan (riba), atau mungkin seluruh dari 4% tsb adalah untuk biaya percetakan dan anda tidak mengambil untung sama sekali. Saya sangat menghargai DVH yang secara jujur menceritakan bahwa dia memperoleh keuntungan sebesar 2% dari bisnis wakala yang dijalankannya. Janganlah bertransaksi secara bathil.</p>
<p>Kemudian lagi biaya operasional PT. Antam adalah dalam rupiah karena PT. Antam belum menjadi perusahaan syariah, tetapi kenapa anda memberlakukan biaya percetakan tsb dalam dinar? Hal ini membuat pembebanan biaya percetakan itu berlaku seterusnya (<em>perpetuity</em>) sehingga makin tinggi harga dinar maka seolah2 biaya percetakan dinar tsb makin tinggi terhadap instrumen lain seperti uang kertas maupun komoditas lain, padahal biaya percetakan itu sudah terjadi di masa lalu dalam rupiah. Hal ini dapat membuka peluang bagi seseorang untuk menimbun barang, apalagi pusat peredaran dinar itu ada pada wakala anda yang tidak diawasi oleh negara.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>&#8230;.Sebagai tambahan, penukaran dinar emas dengan rupiah sangat dicegah, karena itu dibentuklah Jaringan Usahawan Pengguna Dinar dan Dirham (JAWARA/www.jawaradinar.com)&#8230;.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Berdasarkan informasi pada http://www.jawaradinar.com/web/index.php (visited on 4 February 2009) disebutkan:</p>
<p>JAWARA adalah gabungan para wirausahawan, pedagang, produsen, dan penyedia jasa, baik perorangan maupun <em>corporate</em>, yang menggunakan Dinar emas dan Dirham perak sebagai alat pertukaran dalam kegiatan niaga sehari-hari. JAWARA merupakan jaringan terbuka bagi semua pihak tanpa membeda-bedakan jenis usaha dan jasa sektor riil, ras, suku, keyakinan pribadi, maupun wilayah kegiatannya.</p>
<p>Makin jelas bagi saya bahwa tujuan utamanya adalah berjualan dinar dan bukan memberantas riba itu sendiri. Orang Ahmadiyah, JIL, Atheis, maupun murni kafir pun anda masukkan ke dalam jaringan anda selama mereka membeli dinar anda. Orang2 tersebut tidak peduli sama riba sementara anda dimana2 berteriak soal riba, <em>so this is not for the sake of Islam</em>.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Pajak, tentu saja masuk APBN, tapi apakah untuk kepentingan  umum? Bukan, tapi untuk membayar utang ke rentenir asing. Kepentingan umum dibiayai dari utang2 itu. Saya tak punya angka detilnya, tapi  cukup diliat dari mekanismenya saja kan.  Dulu utang kita cuma 2.5 miliar dolar AS, waktu pak Karno jatuh. Terus utang nambah2 jadilah 130an milyar dolar</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Anda bilang cukup diliat dari mekanismenya, skarang saya tanya&#8230;&#8230;Bisa ga argumen anda tersebut diterima di pengadilan manapun di muka bumi ini yang terkenal hakimnya paling bersih? <em>Is it sufficient to support your claims?</em>  Tapi saya tidak akan mempertanyakan lebih lanjut, jika anda bilang bahwa skarang ini tidak ada sosok hakim yang bersih dan yang bersih itu hanyalah orang yang berjualan dinar.</p>
<p>Masalah pajak yang anda bilang tidak benar penggunaannya dan hanya untuk melunasi hutang luar negeri serta tidak ada kontribusi bagi pembangunan, tidak bisa saya terima secara general. Di Belanda pajak orang pernah mencapai 72%, dan hasilnya transportasi lancar, jalanan bersih dan bagus, banyak fasilitas taman kota, banyak beasiswa bagi mahasiswa, dsb. Malah Belanda sempat pula dulunya memimpin group IGGI untuk memberikan hutang luar negeri kepada Indonesia. Kalo dilihat dari sektor industri, maka tidak banyak yang bisa diandalkan disana dan kebanyakan hanya sektor jasa dan pertanian, jadi benar2 mengandalkan pajak.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Sekali lagi, bacalah buku Ilusi Demokrasi, karangan saya yg saya sebut di atas.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Sekali lagi, terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, saya tidak menemukan di buku tersebut detail yang saya tanyakan di imel pertama, kalo soal materi lain di buku tersebut saya bisa dapatkan lebih banyak di referensi lain. Sungguh kurang tepat kalau membuat tuduhan di blog tapi tidak ada referensi dan ketika dikonfrmasi malah menganjurkan untuk membaca buku lain yang sudah ditulis oleh orang yang bersangkutan. Lagian saya kurang tertarik dengan orang yang memanfaatkan diskusi seperti ini untuk promosi jualan produk.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Jangan pura2 tak tahu bahwa jalan tol tidak dibangun dari uang pajak, tapi dari utang ke bank. Juga fasilitas umum lainnya, termasuk gaji pegawai negeri, semuanya dari utang bung! Nyicilnya baru pakai pajak, tentu  sesudah berlipat ganda karena bunga ber bunga</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Okelah saya ikuti cara berpikir anda, anda bilang bahwa pembangunan infrastruktur dari hutang luar negeri dan kemudian pajak untuk membayar hutang tersebut, dengan demikian pajak tidak mempunyai kontribusi untuk pembangunan infrastruktur. Logikanya, Ada 3 orang (A, B, C). Si A berhutang kepada si B Rp 1,100 kemudian si C berhutang kepada si A Rp 1,000. Kemudian si C ingin melunasi hutangnya kepada si A, dan si A bilang ke si C tolong bayarin aja uang tersebut kepada si B nanti kalo ditanya bilang untuk pelunasan 91% dari hutang saya. Kalo dari perspektif anda, maka yang membayar piutang si B adalah si C bukan si A. </p>
<p>Wonderful!</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Kalau kita bersepakat jual-beli, yang tak ada urusannya dengan pihak lain, kenpa dipaksa bayar pajak lagi? Kalau saya nonton film di bioskop, atas dasar hak apa Anda memajaki saya? Kalau saya buat MOU sama orang, kenapa Anda mengutip Rp 6000? Juga kalau saya membayar sesuatu di toko, meminta kuitansi, Anda mamaksa saya membayar rp 6000? Sekarang mau pergi bawa bekal pun dicukai? Atas dasar hak apa Anda memajaki Rp 2.5 juta bagi orang yang mau ke Sinagpura atau Malaysia?</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Mari kita kembali ke mazhab teori kepentingan yang sudah saya sebutkan di paragraph awal dari imel ini. Inilah reaksi dari konflik kepentingan yang saya maksud itu, seolah2 yang malang di Indonesia ini cuma diri anda sendiri saja dan orang lain ikhlas dengan pembayaran tersebut.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Untuk yang ini sekali lagi, silakan baca Ilusi Demokrasi.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Kalimat anda yang satu ini adalah untuk menanggapi usulan saya bagi anda agar membuat kritik seperti buku yang ditulis oleh Amien Rais yang berjudul ’Selamatkan Indonesia’. Sekedar informasi, saya tidak berjualan buku beliau dan komentar saya cuma satu, ”Bagaikan memilih antara emas dengan loyang”.</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>Kalau pun banyak orang butuh kerja, kan tetap haram hukumnya bekerja dipeternakan babi atau perjudian atau rumah bordel kan?&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Berhentilah, dan carilah pekerjaan lain yang halal.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Diskusi dengan anda, saya jadi teringat satu hal yang saya ga suka dari Forum Pembela Islam (FPI) padahal sebenarnya banyak hal yang saya hargai dari gerakan FPI. Yaitu mereka menyerbu bar dan diskotik tapi pabrik miras dan shabu2 seolah tak tersentuh. Kemudian jika diskotik tutup akibat aksi mereka sehingga karyawannya tidak punya pekerjaan, maka tidak ada solusi lahan pekerjaan yang disediakan oleh FPI untuk mereka selain dari kerusakan tsb. Sama persis dengan anda, bisanya hanya nyuruh orang berhenti dan ketika mereka <em>jobless</em> paling2 anda cuma bisa bilang ”Urusan lu! Koq gua sih yang direcokin? Udah syukur juga dah gua selametin dari perbuatan haram lu”.</p>
<p>Saat ini sekolah pun sudah dikuasai oleh kapitalis sehingga biayanya mahal. Ketika orang2 ga mampu untuk kuliah, apakah anda hadir dalam kehidupan mereka? Tapi mereka ga mampu untuk membeli dinar lho, karena penghasilannya habis untuk biaya sehari2. Ato anda nyuruh mereka jadi pekerja kasar saja jika ga mampu kuliah biar nanti pada diperkosa di arab sana? Kemudian ketika mereka ikut Sekolah Tinggi yang biaya kuliahnya gratis dan punya ikatan dinas sehingga tidak bisa berhenti semaunya, anda tinggal maen suruh berhenti? Ketika mereka berhenti, anda lepas tangan?</p>
<p>Kualitas seperti itukah yang sedang anda tunjukkan kepada umat ini?</p>
<p>Rasul sampai perutnya diikat dengan batu karena menahan lapar dan pernah berhari2 dapurnya ga ngebul serta tidurpun Beliau beralaskan sabut kelapa, karena jatah makanannya sudah diberikannya semua kepada orang2 yang membutuhkan. Anda tentu saja tidak akan sanggup seperti itu karena Beliau bukan tipe yang bisanya cuma ngomong doank, hujat sana sini tanpa ada solusi dan punya motif jualan duniawi.</p>
<p>Sama ibaratnya anda melarang operasi bus kota yang sudah tua dan jadi sumber polusi tapi anda tidak bisa menyediakan bus kota yang baru tapi bisanya cuma nyuruh orang, perkara nanti masyarakat kesulitan transportasi, bodo amat. Tipe seperti ini biasanya akrab dengan tiga jenis profesi yaitu Calo, Tukang Jual Obat di Pasar dan <em>Evil Angelist</em> atau <em>Satanic Preacher</em>.</p>
<p>Kalo memang niat anda memang bener, maka berani ga anda ngajak MUI mengeluarkan fatwa pajak dan pegawai pajak haram? Mari bicara legitimasi, bukan anarki. MUI adalah lembaga umat yang legitimate daripada anda untuk mengeluarkan fatwa, walaupun saya tidak setuju dengan fatwa MUI bahwa golput haram tapi saya tetap mengakui legitimasi MUI untuk mengeluarkan fatwa. Lagi2 anda cuma bisa ngomong doank kan?</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>&#8230;&#8230;..Islam hilang karena dinar dan dirham hilang&#8230;&#8230;.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Akan lebih jelas apabila anda sebutkan bahwa penghasilan anda hilang atau berkurang jika dinar dan dirham hilang</p>
<p><strong>ZS:</strong></p>
<blockquote><p>&#8230;.kita tak butuh BI dan Dept. Keuangan&#8230;.</p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Akan lebih lengkap apabila anda sebutkan bahwa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini hanyalah Wakala Induk Nusantara yang anda kelola.</p>
<p><em>Anyway</em>, saya tidak heran dengan orang seperti anda, sudah banyak sebelumnya orang2 yang teriak2 dan hujat sana sini begitu diberi kekuasaan jadi Menteri, anggota DPR, dsb mulai diem. Karena bermuara lagi kepada mazhab teori kepentingan. Hanya saya semakin prihatin, sedemikian <em>desperate</em> nya kah keadaan di Indonesia sehingga orang2 harus make dalil agama untuk memperkaya diri?</p>
<p>Sudah banyak saya berdialog dengan orang2 briliant dan sukses, tapi saya harus mengakui bahwa anda benar-benar ’luar biasa’. Jadi kesimpulannya, jika anda menilai saya bergelimang riba, saya akui bahwa saya belum terlepas dari instrumen riba di negara kita ini tapi pada intinya saya mau tegaskan bahwa anda juga sama2 pemakan riba (pemakan selisih harga jual-beli dinar dengan justifikasi bla bla bla) cuma bedanya anda teriak2 dengan memakai jubah islam mempublikasikan diri sambil menghujat orang, tanpa bisa memberi solusi kongkrit tapi hanya mempopulerkan usaha dinar anda dan mempropagandakannya sebagai solusi.</p>
<p>Ada ujar-ujar orang barat mengatakan:<br />
<em>Someone, who won’t admit that he played wrong, is worse than a loser (anonym)</em>.</p>
<p>Kemudian lagi, lebih baik kita buktikan saja ucapan anda jika sama2 diberikan umur panjang. Apakah dinar saja akan cukup untuk meruntuhkan BI dan DepKeu, jika iya berarti anda makin laris manis tapi jika tidak maka tidak akan ada pengaruhnya bagi anda karena sudah terlanjur meraup untung dalam jumlah yang banyak dan bisnis anda toh bisa tetap eksis. Hampir mirip seperti konsep ESQ mengenai Indonesia Emas tahun 2020, mestinya dibikin jadi taun 3000 aja supaya lebih lama pembuktiannya.</p>
<p>Saya sudah menyampaikan pendapat dan saya minta maaf jika dari cara penyampaian  saya ada yang tidak berkenan di hati mas ZS, DVH atau siapapunlah. Itu merupakan wujud keterbatasan saya sebagai manusia dalam bertutur pendapat</p>
<p>Akhirul kalam, saya menghargai kesediaan anda meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan saya hingga sejauh ini</p>
<p>Wassalam<br />
Zul</p>
<p>Referensi:</p>
<p>1 Halal Haram Dalam Islam, Yusuf Qardhawi, Penerbit PT. Bina Ilmu, 1993.<br />
2 The Book of Ma’ariful Hadith, Darul Ishaat, 2002, Karachi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=54&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/02/10/diskusi-dinar-dan-pajak-continued/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskusi Dinar dan Pajak II</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/02/05/45/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/02/05/45/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 10:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Cukai]]></category>
		<category><![CDATA[Dinar]]></category>
		<category><![CDATA[Ilusi Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkehidupan.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi via email antara Zul, salah satu pelaku ekonomi, dengan ZS sebagai salah satu direktur wakala dinar. Zul: Buat mas ZS, saya mo bincang2 sedikit saya udah baca tulisan2 anda tentang dinar dan pajak. Saya salut dengan usaha anda yang ingin mewujudkan dinar ini menjadi currency di Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Saya sendiri setuju dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=45&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi via email antara Zul, salah satu pelaku ekonomi, dengan  ZS  sebagai salah satu direktur wakala dinar.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Buat mas ZS, saya mo bincang2 sedikit saya udah baca tulisan2 anda tentang dinar dan pajak.  Saya salut dengan usaha anda yang ingin mewujudkan dinar ini menjadi <em>currency</em> di Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Saya sendiri setuju dengan<br />
penggunaan Dinar tersebut karena Rasul dahulu menggunakannya, tapi ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan terlebih dahulu.</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Pertama-tama, saya akan  memulainya dengan menjelaskan dulu:  Allah SWT, dalam Al Qur&#8217;an, menyatakan bahwa:  <em>wa man lam yahkum bima anzalallah fa ula ikahumul kafirun</em> (barang siapa menghukumi sesuatu bukan dengan hukum Allah maka mereka termasuk golongan kafir). Pernyataan senada  ini disebutkan beberapa kali dalam Al Qur&#8217;ani. Hal inilah yang pertama kali kita perlu mengerti, termasuk ketika kita menilai masalah uang kertas, perpajakan, dan riba.<span id="more-45"></span></p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Selama ini saya lihat anda termasuk  separatis dalam mensosialisasikan dinar ini artinya tidak ada campur tangan pemerintah. Bukankah upaya tersebut efeknya hanya menjadi minimal saja dan menguntungkan segelintir orang yang punya akses terhadap dinar tersebut?  Selagi anda tidak merubah kebijakan BI, maka dinar tersebut hanya seperti duri dalam daging saja dan akhirnya orang2 yang di pelosok desa yang tidak ada akses untuk membeli dinar terkena dampak melemahnya rupiah akibat orang2 di kota besar memborong dinar misalnya. Okelah anda perlu waktu buat sosialisasi, tapi perlu memakan berapa banyak korban dulu dalam rentang waktu yang tak diketahui. Apakah islam merestui ketidakadilan? Apakah ini hal pertama yang dilakukan oleh Rasul ketika beliau akhirnya berhasil membebaskan kota mekkah? Apakah beliau hanya fokus pada masalah dinar, biarin deh pemerintah pro zionis ga papa yang penting dia memberlakukan dinar. Kalo gitu anda setuju dengan bentuk negara  kayak Romawi donk yang pemerintahannya musyrik tapi menggunakan koin emas.</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Kedua, kita juga harus mengerti, bahwa riba yang semula merupakan penyimpangan sosial perlahan-lahan berubah menjadi system – yang seolah jadi netral atau bahkan positif – melalui perbankan; dan kini menjadi cara hidup semua orang, ketika pemerintah dan perbankan terintegrasi dalam sistem politik Negara fiskal, yang ditandai dengan segitiga riba: uang kertas-bank sentral-pajak. Jadi, keberhasilan pemberantasan riba, akan ditandai dengan hilangnya uang kertas, dan itu berarti hilangnya bank sentral, dan bergantinya sistem pemerintahan/politik dari model Negara fiskal kepada model yang sesuai dengan fitrah, yakni seperti sebelum ada NKRI, melalui kepemimpinan2 lokal. Kembalinya dinar dan dirham adalah kembalinya kebebasan individu dalam memilih alat tukar, memiliki harta pribadi, dan bertransaksi secara sukarela. Jadi, uang kertas-bank sentral-pajak adalah bentuk legalisasi perampokan, adalah kezaliman dan ketidakdilan itu sendiri. (elaborasi soal ini silakan baca Ilusi Demokrai: Kritik dan Otokritik Islam, terbitan Republika).</p>
<p>Jadi, di sini bukan soal separatis atau bukan, tapi ada atau tidaknya kebebasan individu yang diwajibkan dalam muamalat. Jadi, juga bukan duri dalam daging, kalau tanpa BI, tapi dengan kembalinya dinar dan dirham, kita tak akan membutuhkan BI dan seluruh sistem perbankan lainnya  sama sekali.  Dengan semakin banyak orang menggantikan rupiah ke dinar, semakin kecil ruang gerak perbankan untuk menggelembungkan kredit, dan karena itu menekan inflasi.</p>
<p>Turunnya inflasi akan menolong semua orang, di kota ataupun di desa, kaya ataupun miskin. Jadi, tak ada soal dengan akses ke dinar. Sebab, bagi orang desa, mudah sekali mendapatkan dinar: kalau dia petani padi, jual padinya untuk dibayar dengan dinar, kalau dia peternak kambing, sama, jual kambingnya dengan dinar emas. Selama mereka tak bersentuhan dengan uang kertas, hartanya selamat. Sekali ditukar dengan uang kertas, hartanya amblas, menjadi kertas tak bernilai! Inilah kezaliman.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Dinar tersebut hanya ranting dari permasalahan umat tapi kesan yang saya tangkap hal itulah yang paling utama dalam perjuangan anda.</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Para ulama menyatakan dosa besar kedua sesudah musyrik adalah makan riba. Maka, Allah menyatakan perang terhadap riba, dan orang-orang yang tak mau berhenti makan riba. Dinar dan dirham adalah kebenaran takaran, untuk mencegah riba, dan karenanya bukan soal ranting. Ini adalah salah satu pokok utama dari Islam. Zakat, sebagai rukun islam, tak bisa ditunaikan tanpa ada dinar dan dirham. Hukum2 syariat yang berkaitan dengan denda, hudud, sanksi, dsb, tak bisa ditunaikan kecuali dengan dinar dan dirham. Hukum jual beli, utang-piutang, dan muamalat lain, tak dapat ditunaikan kecuali dengan dinar dan dirham. Rasul SAW, pada tahun 2 H, sebelum menetapkan hukum2 yg lain, menetapkan terlebih dahulu hukum ttg takaran dan timbangan, ttg uang, dalam satuan dinar dan dirham. Jadi, dinar adalah urusan pokok dalam Islam.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Kemudian saya mempertanyakan inkonsistensi anda yang membuka wakala (jualan dinar) tapi anda menerima rupiah sebagai alat pembeli dinar tersebut. Kalo memang uang kertas tsb (rupiah) tidak berharga kenapa anda akui nilainya untuk ditukar dengan dinar? Anda padahal sering merobek uang kertas sebagai alat demontrasi anda kepada orang2 untuk menunjukkan ketidakberhargaan rupiah tersebut, semoga anda tidak sampai memakan uang kertas tersebut untuk menunjukkan bahwa ia bisa dimakan</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Nah, ini adalah karena dua  hal: Pertama, saat ini semua orang masih memakai uang kertas. Maka, salah satu cara terpraktis mendapatkan dinar emas adalah dengan menukarkannya dengan uang kertas yang tak berguna itu. Tapi, kalau ada orang yang mau menukarkannya dengan  kambing atau beras atau benda lainnya, itu lebih baik.</p>
<p>Kedua, inilah masa transisi, ketika dinar emas setiap kali masih harus dicetak baru – karna belum banyak yg beredar –diperlukan biaya cetak dan pengedaran. Selisih uang yang dikenakan pada pemakain dinar adalah untuk biaya2 tsb, bukan an sich jual-beli koin dinar emas. Dinar emas tidak untuk diperjual-belikan.</p>
<p>Saya tidak memakan uang kertas, karena alasan sederhana, kertas memang tak bisa dimakan. Kalau dia dibuat dari jagung atau beras, ah, itu lebih baik, pertama bisa dimakan Dan,  kedua jagung dan beras, ada harganya, ketimbang selembar kertas, bukan?</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Satu-satunya alasan bagi saya bahwa anda mau menerima rupiah tersebut adalah karena anda diuntungkan, dengan menerima rupiah anda tetap bisa membelanjakan rupiah tersebut untuk kepentingan anda (berarti mengakui nilainya donk). Termasuk juga dengan jualan dinar, anda diuntungkan karena ada spread 4% disana apapunlah alasannya (untuk menghindari spekulasi, dsb). Jadi ujung2nya duit juga kan? Sama kayak ustad PKS yang mengusulkan golput haram yang ujung2nya hanya untuk kekuasaan. Sekali lagi ini hanya masalah kepentingan, siapa yang diuntungkan dan dalam posisi bagaimana</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Itu sudah saya jelaskan di atas.  Sebagai tambahan, penurakan dinar emas dengan rupiah sangat dicegah, karena itu dibentuklah Jaringan Usahawan Pengguna Dinar dan Dirham (JAWARA/www.jawaradinar.com), sehingga pemegang dinar emas bisa memakainya untuk membayar kamabing, beras, jasa percetakan, dll, tak usah pakai kembali ke rupiah. Sebab, secara syariah, hal ini berarti mempraktekan  riba. Tapi, dalam amsa transisi dan darurat, belum bis akita hindarkan.</p>
<p>Pahamilah, bahwa uang kertas yang kita pakai saat ini, adalah  bentuk lain pemajakan. Uang kertas adalah pemajakan juga. Bank Sentral mencetak uang itu hanya Rp 300/lembar, kita harus membayarkanya dengan Rp 100.000, yang bearti harus bekerja 2-3 hari. Selisih nilai Rp 100 ribu-Rp 300 = Rp 99.700 adalah pajak, atau riba. Biar pun semua kita memakainya, tidak mengubah hukum asalnya, bahwa uang kertas adalah riba. Haram hukumnya.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Kemudian lagi masalah RUU PPN terhadap produk pertanian. Saya mengakui kalo kabinet ekonomi skarang ini kental sekali pengaruh IMF nya, saya juga kecewa dengan pemberlakuan tariff pajak flat 28% yang menguntungkan orang yang kaya.  Cuma rasanya lucu sekali anda membandingkan petugas pajak dengan pemalak pinggir jalan. Pemalak mendapatkan 100% hasil palaknya dan tidak dibagi kepada siapapun yang tidak berkepentingan. Memang harus diakui ada oknum pajak yang begitu tapi apakah itu bisa digeneralisir? Apakah seluruh pegawai pajak menikmati hasil pemajakan dan tidak ada yang masuk dana APBN?</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Semua pajak, adalah zalim, haram hukumnya. Pajak yang dibenarkan hanyalah jizya  dan kharaj pada kaum kafir dhimmi. Ini dalilnya jelas, dari substansinya juga jelas. Saat ini aturan perpajakan, berupa undang-undang dan peraturan pemerintah lainnya,  adalah aturan buatan manusia, yang justru membalik ketentuan Allah SWT dan Rasul SAW. Riba dan pajak, dalam syariat Islam, haram hukumnya; menurut undang-undang buatan manusia dihalalkan hukumnya. Dengan kata lain pajak, sekali lagi dalam kaca mata hukum Islam,  adalah pencurian yang dilegalisir (oleh hukum buatan manusia). Jadi, disebut pemajakan atau pemalakan, sama saja.</p>
<p>Pajak, tentu saja masuk APBN, tapi apakah untuk kepentingan  umum? Bukan, tapi untuk membayar utang ke rentenir asing. Kepentingan umum dibiayai dari utang2 itu. Saya tak punya angka detilnya, tapi  cukup diliat dari mekanismenya saja kan.  Dulu utang kita cuma 2.5 miliar dolar AS, waktu pak Karno jatuh. Terus utang nambah2 jadilah 130an milyar dolar. Alasan utangnya adalah untuk kepentingan umum, dan gaji pegawai negeri tentu, yg haruis dibayar dg berlipat ganda kerena bunganya. Nah, pajak pun merajalela untuk membayar utang rentenir yang sdh berlipat2 itu. Jadi, jangan dibalik faktanya, rakyat dipajaki untuk kepentingan umum, dst, tapi pemerintah berdalih untuk kepentingan umu demiutang, dan keran utang menarik pajak habis-habisan. Sekali lagi, bacalah buku Ilusi Demokrasi, karangan saya yg saya sebut di atas.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Saya pribadi juga tidak setuju dengan mekanisme pajak tersebut karena tidak sesuai dengan hukum islam, walopun dalam islam ada pajak yang dipaksakan kepada non-muslim yang disebut jizyah. Kemudian lagi anda bilang bahwa dana infrastruktur hanya dibiayai dari hutang luar negeri, bisa ga anda mem-break down berapa yang berasal dari hutang berapa yang dari pajak? Apakah 100% dari hutang, kemudian dana dari pajak lenyap tak berbekas. Kemudian dana pajak yang dipake buat kreditur berapa banyak, apakah 100%? Kalo seandainya ada dana pajak tersebut yang digunakan untuk membangun jalan tol dan anda masih saja menggunakan fasilitas yang anda anggap riba tsb, <em>isn’t it ridiculous?</em></p></blockquote>
<p><strong>Zul:</strong><br />
Tidak ada seorang pun yang waras di dunia ini rela dipajaki. Yang ada kan dipaksa tanpa ampun.  Sudah saya sebut di atas, dalam Islam, pajak hanya halal bagi kaum kafir dhimmi, itu pun rendah sekali nilainya. Pajak pada sesama muslim haram hukumnya. Soal APBN dan utang luar negeri  sudah saya ulas di atas.</p>
<p>Kalau soal jalan tol, lha pakai jalan tol  sudah kita bayar kok, ditambah pajal jalanan lagi, ditambah pajak kendaraan, pajak SIM, pajak bahan bakar, pajak penerangan, dst.  Jangan pura2 tak tahu bahwa jalan tol tidak dibangun dari uang pajak, tapi dari utang ke bank. Juga fasilitas umum lainnya, termasuk gaji pegawai negeri, semuanya dari uatng bung! Nyicilnya baru pakai pajak, tentu  sesudah berlipat ganda karena bunga ber bunga.</p>
<p>Jadi, menegaskan sekali lagi, semua sarana umum sekarang nikita bayar terpisah: sekolah, RS, penerangan, telpon, dst. Lha, kok masih ditambah pajak? Ini zalim, bung. Kezaliman yang tiada tara. Kalau kita bersepakat jual-beli, yang tak ada urusannya dengan pihak lain, kenpa dipaksa bayar pajak lagi? Kalau saya nonton film di bioskop, atas dasar hak apa Anda memajaki saya? Kalau saya buat MOU sama orang, kenapa Anda mengutip Rp 6000? Juga kalau saya membayar sesuatu di toko, meminta kuitansi, Anda mamaksa saya membayar rp 6000? Sekarang mau pergi bawa bekal pun dicukai? Atas dasar hak apa Anda memajaki Rp 2.5 juta bagi orang yang mau ke Singapura atau Malaysia?</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Sama donk kayak demo Israel tapi pulangnya nongkrong di Starbucks. <em>Don’t be stupid</em>, komentar anda dibaca oleh banyak orang dan anda harus bisa mempertanggungjawabkan omongan tersebut. Kalo ada yang digelapkan sebutkan dan laporkan ke KPK ato silahkan kutip datanya dari KPK kalo ada. Kalo ga gitu ga ada bedanya dengan omongan di pinggir jalan ato warung kopi, bahkan satupun referensinya ga ada di tulisan anda tersebut. Saya sarankan kalo mo buat kritik bikinlah kayak bukunya Amien Rais yang judulnya &#8216;Selamatkan Indonesia’ itu baru tulisan seorang yang berpendidikan, jelas sekali referensi2nya. Tapi kalo ga jelas datanya, anda mau teriak2 gimana juga ga bakal didengerin orang (yang berpendidikan tentunya)</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Untuk yang ini sekali lagi, silakan baca Ilusi Demokrasi.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Anda bilang:</p>
<p>Dan, ingatlah, wahai para penarik cukai dan pajak, panasnya api neraka menanti Anda</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Ini bukan pendapat saya. Ini Hadist dari rasul SAW, Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, Rasulullah SAW mengatakan, ”TIDAK AKAN MASUK SURGA ORANG YANG MEMUNGUT CUKAI”. Dalam riwayat lain ia mengatakan, ”SUNGGUH ORANG YANG MEMUNGUT CUKAI BERADA DALAM NERAKA.”</p>
<p>Anda ikut juga ga kmaren di dalam tim MUI yang bikin fatwa bahwa golput haram? Kemudian jika orang2 pada berhenti kerja jadi pegawai pajak dan cukai seluruhnya gara2 baca tulisan anda, apa anda sanggup menanggung konsekwensinya? Apa anda bisa menyelesaikan permasalahan kalo itu terjadi? Kita hentikan saja pajak ini toh dana pembangunan juga dari hutang luar negeri? Ga gampang loh merekrut puluhan ribu orang dengan intelejensi yang baik dan punya pengalaman dalam waktu singkat (beda dengan pola rekrutmen Pemda, dsb) , yang ngelamar sih bisa aja ratusan ribu tapi apa bisa kualitas puluhan ribu tersebut digantikan dalam waktu yang instan?</p>
<p>Kalau pun banyak orang butuh kerja, kan tetap haram hukumnya bekerja dipeternakan babi atau perjudian atau rumah bordel kan? Sama halnya, kalaupun banyak orang pintar tentang mempraktekan riba, tentang perbankan, ttg perpajakan, dsb, tidak lalu mengubah hukmnya, bahwa kerja di tempat-tempat seperti itu jadi halal. Berhentilah, dan carilah pekerjaan lain yang halal.  Lebih banyak pekerjaan yang halal daripada yang haram. Sebab, Allah maha pemurah, menyediakan semua hal itu halal, kecuali yang diharamkan. Jadi, perkecualian itu sedikit sekali, yang halal jauh lebih banyak.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Tetap aja cuma bisa omong doank kan? Karena yang anda sentuh hanya cabang2 dari permasalahan dan tidak berusaha mengobati sumber penyakit itu sendiri<br />
 Sungguh kita orang Indonesia patut dikasihani, <em>have been being doomed for a long long time and unable to wake up and fight idiocy</em>. Itulah sebabnya di website http://www.aswatalislam.net/   tempat kumpulan ulama dan da&#8217;i dari seluruh dunia tapi tidak ada satupun orang Indonesia walopun kita memiliki pemeluk islam terbesar di dunia, karena kualitasnya menyedihkan</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Sudah saya jelaskan di atas, soal riba adalah jantung dari permasalahan kemanusiaan sekarang  ini. Rasul SAW menyatakan bahwa akan datang suatu zaman ketika bahkan orang yang tak bermaksud makan riba pun kena debunya. Zaman itu adalah sekarang ini. Cara hidup kita adalah cara hidup ribawai: pakai uang kertas, dipajaki, tiap hariberurusan dengan bank, dst. Islam hilang karena dinar dan dirham hilang. Tak ada jual-beli yg halal, tak ada zakat, tak ada hukuman dan sanski.</p>
<p><strong>Zul:</strong></p>
<blockquote><p>Jika anda ingin permasalahan dinar dan pajak tersebut dituntaskan maka BI dan Departemen Keuangan harus di reformasi kebijakannya dan untuk bisa melakukan itu harus bisa mengganti pemerintahannya terlebih dahulu (yang tidak akan pernah dicapai lewat jalan demokrasi) seperti Ayatollah Khomeini misalnya dan untuk bisa melakukan itu harus siap menghadapi Zionis dan Amerika kayak Hamas dan Hizbullah. <em>It&#8217;s not that simple, isn&#8217;t it</em>. Anda dah liat gimana Erbakan di Turki diberangus, FIS di Aljazair di habisi, IM di Mesir dikebiri. Dan mereka itu langsung berusaha merubah kezaliman dari pusat kekuasaan bukan hanya parsial, sayangnya gagal, karena tidak punya persenjataan dan pasukan lengkap dalam menghadapi orang2 pro zionis</p></blockquote>
<p><strong>ZS:</strong><br />
Nah, ini mengulangi saja, ketika dinar dan dirham sudah kembali,  kita tak butuh BI dan Dept. keuangan. Dengan sendirinya, ketika riba lenyap, institusi-instutusi penopang riba ini akan runtuh dengan sendirinya. Tak perlu direformasi, mas. Bakal runtuh dengan sendirinya. Karena itu, cobalah renungkan dengan hati yang jernih dan kepala dingin, sebelum semuanya runtuh, hijrahlah. Sebab, itu akan langsung mengenai Anda dan keluarga.</p>
<p>Bersiaplah untuk berhijrah.  Selamatkan diri Anda dan keluarga, dan seluruh masyarakat lain akan ikut selamat. Gunakan pengetahuan Anda untuk yang lebih berguna.</p>
<p>Semoga Allah SWT memberikan cahanya kepada kita semua. Semoga Allah SWT menunjukkan yang  haq adalah haq, dan yang batil adalah batil.</p>
<p>Amin.<br />
Wassalam<br />
ZS</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=45&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/02/05/45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskusi Tentang Dinar dan Pajak</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/01/29/diskusi-tentang-dinar-dan-pajak/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/01/29/diskusi-tentang-dinar-dan-pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 09:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dinar]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Wakala Induk Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Zaim Saidi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkehidupan.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Zul, salah seorang pelaku ekonommi, kepada ZS salah satu direktur wakala dinar Buat mas ZS, saya mo bincang2 sedikit saya udah baca tulisan2 anda tentang dinar dan pajak. Saya salut dengan usaha anda yang ingin mewujudkan dinar ini menjadi currency di Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Saya sendiri setuju dengan penggunaan Dinar tersebut karena Rasul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=42&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Zul, salah seorang pelaku ekonommi, kepada ZS salah satu direktur wakala dinar</p>
<p>Buat mas ZS, saya mo bincang2 sedikit saya udah baca tulisan2 anda tentang dinar dan pajak.</p>
<p>Saya salut dengan usaha anda yang ingin mewujudkan dinar ini menjadi <em>currency</em> di Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Saya sendiri setuju dengan penggunaan Dinar tersebut karena Rasul dahulu menggunakannya, tapi ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan terlebih dahulu. </p>
<p>Selama ini saya lihat anda termasuk  separatis dalam mensosialisasikan dinar ini artinya tidak ada campur tangan pemerintah. Bukankah upaya tersebut efeknya hanya menjadi minimal saja dan menguntungkan segelintir orang yang punya akses terhadap dinar tersebut? Selagi anda tidak merubah kebijakan BI, maka dinar tersebut hanya seperti duri dalam daging saja dan akhirnya orang2 yang di pelosok desa yang tidak ada akses untuk membeli dinar terkena dampak melemahnya rupiah akibat orang2 di kota besar memborong dinar misalnya. Okelah anda perlu waktu buat sosialisasi, tapi perlu memakan berapa banyak korban dulu dalam rentang waktu yang tak diketahui. Apakah islam merestui ketidakadilan? <span id="more-42"></span></p>
<p>Apakah ini hal pertama yang dilakukan oleh Rasul ketika beliau akhirnya berhasil membebaskan kota Mekkah? Apakah beliau hanya fokus pada masalah dinar, biarin deh pemerintah pro zionis ga papa yang penting dia memberlakukan dinar. Kalo gitu anda setuju dengan bentuk negara  kayak Romawi donk yang pemerintahannya musyrik tapi menggunakan koin emas. </p>
<p>Dinar tersebut hanya ranting dari permasalahan umat tapi kesan yang saya tangkap hal itulah yang paling utama dalam perjuangan anda. Kemudian saya mempertanyakan inkonsistensi anda yang membuka wakala (jualan dinar) tapi anda menerima rupiah sebagai alat pembeli dinar tersebut. </p>
<p>Kalo memang uang kertas tsb (rupiah) tidak berharga kenapa anda akui nilainya untuk ditukar dengan dinar? Anda padahal sering merobek uang kertas sebagai alat demontrasi anda kepada orang2 untuk menunjukkan ketidakberhargaan rupiah tersebut, semoga anda tidak sampai memakan uang kertas tersebut untuk menunjukkan bahwa ia bisa dimakan.</p>
<p>Satu-satunya alasan bagi saya bahwa anda mau menerima rupiah tersebut adalah karena anda diuntungkan, dengan menerima rupiah anda tetap bisa membelanjakan rupiah tersebut untuk kepentingan anda (berarti mengakui nilainya donk). Termasuk juga dengan jualan dinar, anda diuntungkan karena ada spread 4% disana apapunlah alasannya (untuk menghindari spekulasi, dsb). </p>
<p>Jadi ujung2nya duit juga kan? Sama kayak ustad PKS yang mengusulkan golput haram yang ujung2nya hanya untuk kekuasaan. Sekali lagi ini hanya masalah kepentingan, siapa yang diuntungkan dan dalam posisi bagaimana.</p>
<p>Kemudian lagi masalah RUU PPN terhadap produk pertanian. Saya mengakui kalo kabinet ekonomi sekarang ini kental sekali pengaruh IMF nya, saya juga kecewa dengan pemberlakuan tariff pajak flat 28% yang menguntungkan orang yang kaya.</p>
<p>Cuma rasanya lucu sekali anda membandingkan petugas pajak dengan pemalak pinggir jalan. Pemalak mendapatkan 100% hasil palaknya dan tidak dibagi kepada siapapun yang tidak berkepentingan. Memang harus diakui ada oknum pajak yang begitu tapi apakah itu bisa digeneralisir? Apakah seluruh pegawai pajak menikmati hasil pemajakan dan tidak ada yang masuk dana APBN? </p>
<p>Saya pribadi juga tidak setuju dengan mekanisme pajak tersebut karena tidak sesuai dengan hukum islam, walopun dalam islam ada pajak yang dipaksakan kepada non-muslim yang disebut jizyah. </p>
<p>Kemudian lagi anda bilang bahwa dana infrastruktur hanya dibiayai dari hutang luar negeri, bisa ga anda mem-<em>break down</em> berapa yang berasal dari hutang berapa yang dari pajak? Apakah 100% dari hutang, kemudian dana dari pajak lenyap tak berbekas. Kemudian dana pajak yang dipake buat kreditur berapa banyak, apakah 100%? Kalo seandainya ada dana pajak tersebut yang digunakan untuk membangun jalan tol dan anda masih saja menggunakan fasilitas yang anda anggap riba tsb, <em>isn’t it ridiculous?</em> Sama donk kayak demo Israel tapi pulangnya nongkrong di Starbucks.<br />
<em>Don’t be stupid</em>, komentar anda dibaca oleh banyak orang dan anda harus bisa mempertanggungjawabkan omongan tersebut. Kalo ada yang digelapkan sebutkan dan laporkan ke KPK ato silahkan kutip datanya dari KPK kalo ada. Kalo ga gitu ga ada bedanya dengan omongan di pinggir jalan ato warung kopi, bahkan satupun referensinya ga ada di tulisan anda tersebut. Saya sarankan kalo mo buat kritik bikinlah kayak bukunya Amien Rais yang judulnya <strong>‘Selamatkan Indonesia’</strong> itu baru tulisan seorang yang berpendidikan, jelas sekali referensi2nya. Tapi kalo ga jelas datanya, anda mau teriak2 gimana juga ga bakal didengerin orang (yang berpendidikan tentunya)</p>
<p>Anda bilang:<br />
<em><strong>&#8220;Dan, ingatlah, wahai para penarik cukai dan pajak, panasnya api neraka menanti Anda&#8221;</strong></em></p>
<p>Anda ikut juga ga kmaren di dalam tim MUI yang bikin fatwa bahwa golput haram? Kemudian jika orang2 pada berhenti kerja jadi pegawai pajak dan cukai seluruhnya gara2 baca tulisan anda, apa anda sanggup menanggung konsekwensinya? Apa anda bisa menyelesaikan permasalahan kalo itu terjadi? Kita hentikan saja pajak ini toh dana pembangunan juga dari hutang luar negeri? Ga gampang loh merekrut puluhan ribu orang dengan intelejensi yang baik dan punya pengalaman dalam waktu singkat (beda dengan pola rekrutmen Pemda, dsb) , yang ngelamar sih bisa aja ratusan ribu tapi apa bisa kualitas puluhan ribu tersebut digantikan dalam waktu yang instan?</p>
<p>Tetap aja cuma bisa omong doank kan? Karena yang anda sentuh hanya cabang2 dari permasalahan dan tidak berusaha mengobati sumber penyakit itu sendiri.<br />
Sungguh kita orang Indonesia patut dikasihani, <em>have been being doomed for a long long time and unable to wake up and fight idiocy</em>. Itulah sebabnya di website http://www.aswatalislam.net/  tempat kumpulan ulama dan dai dari seluruh dunia tapi tidak ada satupun orang Indonesia walopun kita memiliki pemeluk islam terbesar di dunia, karena kualitasnya menyedihkan.</p>
<p>Jika anda ingin permasalahan dinar dan pajak tersebut dituntaskan maka BI dan Departemen Keuangan harus direformasi kebijakannya dan untuk bisa melakukan itu harus bisa mengganti pemerintahannya terlebih dahulu (yang tidak akan pernah dicapai lewat jalan demokrasi) seperti Ayatollah Khomeini misalnya dan untuk bisa melakukan itu harus siap menghadapi Zionis dan Amerika kayak Hamas dan Hizbullah. <em>It&#8217;s not that simple, isn&#8217;t it.</em> Anda dah liat gimana Erbakan di </p>
<p>Turki diberangus, FIS di Aljazair di habisi, IM di Mesir dikebiri. Dan mereka itu langsung berusaha merubah kezailman dari pusat kekuasaan bukan hanya parsial, sayangnya gagal, karena tidak punya persenjataan dan pasukan lengkap dalam menghadapi orang2 pro zionis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=42&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2009/01/29/diskusi-tentang-dinar-dan-pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Penghayal</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/12/24/sang-penghayal/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/12/24/sang-penghayal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 04:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Karl May]]></category>
		<category><![CDATA[Kho Ping Hoo]]></category>
		<category><![CDATA[Old Shatterhand]]></category>
		<category><![CDATA[Winnetou]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkehidupan.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat tentang bacaan masa kecil, maka benak saya langsung redirect kedua tokoh tukang cerita yang sudah kondang. Satunya adalah Kho Ping Hoo, yang cersilnya sudah mulai saya baca waktu kelas 3 SD dan satunya lagi adalah Karl May, yang bukunya sering saya baca sejak kelas 6 SD hingga SMP. Keduanya mempunyai gaya bertutur yang khas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=32&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengingat tentang bacaan masa kecil, maka benak saya langsung 	<em>redirect</em> kedua tokoh tukang cerita yang sudah kondang. Satunya adalah Kho Ping Hoo, yang cersilnya sudah mulai saya baca waktu kelas 3 SD dan satunya lagi adalah Karl May, yang bukunya sering saya baca sejak kelas 6 SD hingga SMP. Keduanya mempunyai gaya bertutur yang khas dengan berdasarkan fantasi dan khayalan masing-masing. Mengingat, setting cerita yang mereka angkat belum tentu pernah mereka jelajahi secara nyata. Runutan alur cerita yang cerdas dan berdaya imaji tinggi itulah yang menanamkan fantasi di sel-sel kelabu saya saat itu dan masih bisa di-<em>recall</em> hingga sekarang. <span id="more-32"></span></p>
<p>Diantara kedua tokoh pengarang tersebut mungkin Kho Ping Hoo yang lebih terkenal dan digemari di Indonesia, karena beliau memang dilahirkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kho_Ping_Hoo">di Sragen, Indonesia</a>. Dengan bekal pengetahuan silat yang dipelajari dari ayahnya, Kho Ping Hoo bisa mengolahnya menjadi karya cerita silat yang menjadi bacaan klasik yang bagus dibaca karena beliau juga menyisipkan petuah-petuah bijak dalam karyanya tersebut. Salah satu website yang menawarkan ebook cersil Kho Ping Ho adalah <a href="http://www.dimhad.co.cc/">Dimhad</a> dan <a href="http://topmdi.com/cerita/Silat/index.html">Topmdi</a>.</p>
<p>Sedangkan Karl May lebih hebat daya khayalnya, tanpa menginjakkan kakinya di benua Amerika, beliau bisa menceritakan petualangan dan pengembaraan Old-Shatterhand dan Winnetou secara menarik. Karakter yang cinta damai dari kedua tokoh tersebut mungkin muncul sebagai balas dendam atas kepahitan hidup yang dialami Karl May sejak kecil. Riwayat kehidupan Karl May secara detil bisa dibaca <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karl_May">disini</a>. Daya imajinasi atau khayalan yang tinggi bisa menyebabkan seseorang seperti Karl May mempelajari secara detil buku geografi dan dikombinasikan dengan cerita dari tokoh fiktif ciptaannya. Penggemarnya pun banyak diseluruh dunia, sehingga muncul berbagai fans club Karl May diantaranya adalah <a href="http://www.indokarlmay.com">IndoKarlMay</a>. Untuk mengetahui bagaimana kehebatan Karl May dalam bercerita, silakan unduh saja salah satu karyanya yang diterbitkan di Indonesia pada tahun 1978 berikut ini:</p>
<p><strong>Putera-Putera Suku Mimbrenyo</strong><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Putera2_Suku_Mimbrenyo1.html">Jilid 1</a><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Putera2_Suku_Mimbrenyo_2.html">Jilid 2</a><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Putera2_Suku_Mimbrenyo_3.html">Jilid 3</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=32&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/12/24/sang-penghayal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlu Gak PNS Berintelijensi Tinggi?</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/12/14/7/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/12/14/7/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 08:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[Intelijensi]]></category>
		<category><![CDATA[IQ Test]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkehidupan.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan belakangan ini ribuan orang berharap bisa lolos dalam ujian saringan CPNS. Entah karena sudah sepakat buka lowongan CPNS pada kuartal terakhir tahun ini atau tidak, tapi hampir seluruh lembaga/departemen dan Pemerintah Daerah punya hajat yang sama. Di media massa akhir-akhir ini kita sering baca dan lihat antrian orang mendaftar atau mau melakukan test [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=7&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan belakangan ini ribuan orang berharap bisa lolos dalam ujian saringan CPNS. Entah karena sudah sepakat buka lowongan CPNS pada kuartal terakhir tahun ini atau tidak, tapi hampir seluruh lembaga/departemen dan Pemerintah Daerah punya hajat yang sama. Di media massa akhir-akhir ini kita sering baca dan lihat antrian orang mendaftar atau mau melakukan test CPNS. Walaupun test CPNS di Pemda diusahakan waktunya berbarengan, agar setiap pendaftar tidak bisa mendaftar di lebih dari satu instansi, tapi tetap aja pendaftarnya masih membeludak. Ingin rasanya fenomena seperti ini dijadikan indikator banyaknya pengangguran di Indonesia, tentu saja setelah dikurangi pendaftar test CPNS yang saat ini sedang kerja.<span id="more-7"></span></p>
<p>Saya dulu pernah bingung, gak habis pikir kenapa PNS menjadi suatu pekerjaan yang sangat didambakan oleh jutaan orang penduduk di Indonesia. Padahal menurut saya gajinya kecil, kerjaannya gak jelas, mau masuk aja (sebagian orang) harus mbayar calo, waktu kerja sangat fleksibel, dan sebagainya. Dan yang saya herankan kenapa banyak orang-orang pinter yang masuk jadi PNS, gak semua seh. Tapi mayoritas PNS yang saya kenal sebenarnya mempunyai tingkat intelijensi yang tinggi. Worth it gak seh orang pinter-pinter kayak gitu kerja jadi PNS. Kalau dulu seh masih bisa berkilah, gajinya kecil gak pa pa, asal penghasilannya unlimited&#8230;(you know what i mean, he3x). Saya yakin sekarang banyak yang tiarap karena takut terkena peluru nyasar KPK.</p>
<p>Krisis moneter tahun 1997-1998 hingga great depression era milenium saat ini bisa menunjukkan keunggulan daya tahan para PNS. Yang kerja di swasta banyak yang di PHK, tapi para PNS tetap tenang. Karena toh Pemerintah/Pemda gak bakalan tega mem-PHK dan memotong gaji-nya. Walau dana anggaran defisit, tapi untuk membayar gaji PNS Pemerintah Pusat/Pemda sangat lihai mencari sumber pinjaman dari sana-sini. Karena keunggulan inilah bank dan rentenir uang secara hangat selalu menerima permohonan pinjaman yang disampaikan oleh PNS.  PNS yang pintar dan jujur pun kalau bisa mengatur modus pinjam uang dan menginvestasikannya pada suatu usaha kecil-kecilan pun bisa menjadi lebih makmur kehidupannya.</p>
<p>Mungkin itulah jadi alasan utama kenapa banyak lulusan fresh graduate ataupun yang sudah berpengalaman mencoba melamar jadi PNS. Realistis aja deh, mungkin itu yang ada dibenak mereka. Banyak perusahaan swasta yang bangkrut dan yang pingin berwirausahapun gak tau mau bikin usaha yang apa yang bisa exist ditengah krisis. Sehingga pertarungan di dunia persilatan, eh maksud saya di test-test CPNS pun menjadi sangat sengit. Karena orang yang berbekal intelijensi tinggi dan nilai bagus di bangku kuliah secara superior berusaha merebut lahan kerja bagi lulusan Perguruan Tinggi yang nilai-nya pas-pasan dan intelijensi lebih rendah. Dulu dosen saya bilang kalau yang applied PNS tuh biasanya IPK-nya 2,5 s/d 3. Yang diatas itu biasanya kerja di perusahaan swasta dan multinasional. </p>
<p>Pertanyaannya sekarang, apakah PNS itu perlu berintelijensi yang tinggi atau gak? Menurut saya pribadi seh, gak perlu. Beban kerja yang rendah, dulu MenPan pernah bilang jam kerja efektif PNS hanya 2 jam tiap hari (2006), rutinitas birokrasi yang harus dijalani tiap hari, dan budaya kerja yang santai menurut saya akan mengurangi kinerja dari PNS tersebut. Sehingga sering kita temui banyak PNS yang IQ-nya tinggi dan rendah kinerjanya satu level. Hal ini biasanya orang yang ber-IQ tinggi tidak mendapatkan apa yang dia harapkan dari dunia PNS. Karir, penghargaan dan penghasilannya yang mereka terima bisa jadi lebih rendah dari PNS lain yang lebih handal dalam membina koneksi.</p>
<p>Untuk meningkatkan intelijensi atau IQ seseorang maka setiap pelamar CPNS seyogyanya terus belajar. Banyak buku-buku test IQ yang harus dipelajari oleh para pelamar PNS dengan tingkat intelijensi yang pas-pasan (no hurt feeling). Karena kalau tidak belajar lebih keras, saya yakin mereka bisa dikalahkan secara telak oleh pelamar CPNS dengan intelijensi yang lebih tinggi. Untungnya test IQ yang harus mereka tempuh biasanya sudah standar dan banyak buku-buku di toko buku yang mengupas tuntas dengan berbagai jenis jurus. Beberapa buku test intelijensi lokal yang direkomendasiin oleh rekan saya Arif dan eagleflyfree bisa diunduh disini:</p>
<p><strong>Ebooks IQ Dan Personality Test Lokal</strong><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Tingkatkan_IQ.html">Tingkatkan_IQ_Anda</a><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Intelijensi_gamma.html">Test Inteligensi Gamma</a><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Test_Personaliti.html">Test personality</a></p>
<p><strong>Bonus</strong><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Books_of_IQ_Test.html">Books of IQ Tests by Ken Rusell dan Phillip Carter, Book 5</a><br />
<a href="http://www.indowebster.com/Complete_Books_of_Intelligence_Tests.html">Complete Book of Intelligence Tests by Phillip Carter</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=7&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/12/14/7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Kabar Dunia</title>
		<link>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/11/28/apakabardunia/</link>
		<comments>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/11/28/apakabardunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 09:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belajarkehidupan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Halooo, apa kabar dunia&#8230;. Itu mungkin kata-kata yang disampaikan dalam bentuk tangisan saat seorang bayi menunjukkan eksistensi dirinya di dunia yang fana ini. Diiringi senyum syukur dari ibunya, bapaknya dan bidan, perawat serta dokter yang membantu proses persalinannya. Hello world&#8230; Itu kata-kata yang selalu ada disetiap blog baru di wordpress ini. Yang berarti satu orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=1&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halooo, apa kabar dunia&#8230;.<br />
Itu mungkin kata-kata yang disampaikan dalam bentuk tangisan saat seorang bayi menunjukkan eksistensi dirinya di dunia yang fana ini. Diiringi senyum syukur dari ibunya, bapaknya dan bidan, perawat serta dokter yang membantu proses persalinannya.</p>
<p>Hello world&#8230;<br />
Itu kata-kata yang selalu ada disetiap blog baru di wordpress ini. Yang berarti satu orang lagi berusaha menunjukkan eksistensi dirinya  di dunia maya. <span id="more-1"></span></p>
<p>Bicara tentang dunia, menurut saya pribadi dunia adalah suatu ruang kelas yang maha besar. Disana kita belajar tentang kehidupan. Belajar tentang kenakalan saat saya masih ABG hingga remaja (saat ini juga ding, walau cuman dikit&#8230;:p), belajar tentang blessing in disguise, belajar tentang cinta, benci, nafsu, persahabatan, perseteruan, khianat, amanah, dan ketulusan. Kehidupan bisa kita pelajari dari observasi, wawancara, atau survey dengan kuesioner. Kok jadi penelitian yach? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yang pasti peristiwa yang kita amati setiap hari merupakan suatu insight yang sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran diri. Selain itu kita juga bisa belajar dari mentor, teman, saudara, dan yang pasti dari ortu kita. Buku juga merupakan salah satu media pembelajaran kehidupan. Sebagai jendela dunia, dari buku kita bisa pelajari ilmu yang ditemukan, dikembangkan, dan ditulis oleh orang lain. Otobiografi merupakan salah satu sumber informasi kehidupan yang sering saya baca, karena bisa memberikan inspirasi bagi perbaikan diri saya. <!--more--></p>
<p>Sedangkan di dunia maya, blog dan forum merupakan tempat yang paling asik untuk belajar tentang kehidupan dengan melakukan sharing.  Saya bukan seorang yang pandai bercerita dalam bentuk tulisan, sehingga ketika ribuan orang sudah mempunyai blog, saya masih berkutat tentang harus mulai dari mana, mau cerita apa, nulisnya gimana, dsb. Sehingga dengan kenekatan membuat blog ini saya berusaha terus berkembang dan belajar. Sementara ini saya masih mencari konsep yang khusus untuk membuat blog ini lebih menarik dari sisi content dan tampilannya. Yang tujuan akhirnya semoga bisa bermanfaat bagi semua orang. </p>
<p>Segala kritik dan saran dengan senang hati saya harapkan, untuk bahan perbaikan bagi blog ini.</p>
<p>Wassalam. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belajarkehidupan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belajarkehidupan.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belajarkehidupan.wordpress.com&amp;blog=5674139&amp;post=1&amp;subd=belajarkehidupan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkehidupan.wordpress.com/2008/11/28/apakabardunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a65d2610484dfb999d8cb543b79f28b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">belajarkehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
